Hidup adalah
perjalanan, so pasti tak lepas dari yang namanya nyasar. Iya, nyasar! Ada
banyak cerita nyasar yang ingin ku ungkap di sini, tapi mungkin tak akan habis
dikupas dalam sehari. Misalnya saja ketika kecil aku suka sekali nyasar alias
salah jalan, kalau nyasarnya di luar kota sih mungkin wajar, tapi ini nyasarnya
di dalam kota sendiri. Lucu kan? Kota yang sudah sering ku lewati tapi
tiba-tiba jadi lupa jalan pulangnya. Aku sempat khawatir jangan-jangan aku udah
pikun. Ah, gak mungkin kan masih kepala satu masa udah pikun.
Hal yang membuatku
paling takut adalah ketika nyasar di dalam goa. Pas lagi asyik-asyiknya
menyusuri goa bawah tanah dalam suatu event kampus, tiba-tiba ketemu jalan
buntu. Deg! Aku syok, mana gak bawa senter lagi. Hape juga gak bawa. Akhirnya
aku tenang sejenak, mencoba mengingat jalan keluarnya meskipun sebenarnya aku was-was.
Bagaimana kalau tiba-tiba ada ular naga atau makhluk halus kayak di tipi-tipi?
Mending kalau yang datang Si Buta dari Goa Hantu aku bisa minta dianterin
pulang sekalian. Soalnya meskipun doi buta tapi sakti. Ah, kutepis segala
pikiran buruk dan akhirnya...Aha! lampu di kepalaku menyala pertanda wangsit
(baca: ilham/petunjuk) sudah datang.
Aku mencoba
untuk tetap konsentrasi menyusuri lorong goa. Tanganku memegang tongkat sebagai
penunjuk jalan, takut kalau-kalau menabrak dinding goa. Maklum di dalam gelap
banget. Hal kayak gini membuatku bersyukur. Iya lah, harusnya kita bersyukur
diberi mata normal. Bisa melihat dunia ini dengan jelas. Bayangkan kalau kita
buta? Ngeri kan? Yup, mari kita syukuri nikmat tuhan yang satu ini. Eh, kembali
ke goa tadi. Sambil menyusuri lorong yang gelap, mulutku tak henti komat-kamit.
Merapal mantra tak henti, berharap tuhan segera menunjukkan jalan tuk kembali.
Cieehh, meski takut masih juga sok puitis. Tak apalah toh di dalam goa gak ada
gerimis. Lho, apa hubungannya puitis sama gerimis? Ya ada lah, biasanya nih
kalau lagi gerimis orang itu bawaannya suka romantis jadinya sok puitis kalo
gak percaya nanya aja ma Azis! Haha, nglantur lagi.
Pendek cerita
setelah sempat nabrak dinding sana-sini, untung gak sampe benjut (perasaan tadi
bawa tongkat ko nabrak? Iya maksudnya tongkatnya yang nabrak, haha) akhirnya
ketemu juga jalannya. Aku mengikuti arah aliran udara dalam goa, perlahan
akhirnya ku temukan celah dan…hap! Aku meloncat keluar. Horee, aku selamat.
Cerita tentang
nyasarku belum selesai sampe di sini, masih banyak cerita jalan nyasar lainnya.
Mulai dari nyasar naik angkot sampe nyasar jurusan kuliah. Yup, banyak bukan
cerita nyasarku? Yah, seperti yang ku bilang tadi hidup adalah perjalanan jadi
wajar kalo nyasar. Malah gak wajar kalo gak pernah kesasar, haha!
Ini ceritanya tentang
aku yang katanya, katanya lho ya bukan kataku. Kata profesorku aku itu
mahasiswa salah jurusan! Lho, kok bisa? Bisa saja wong aku lebih suka baca
buku-buku lain dibanding diklat kuliahku. Ceritanya waktu itu aku lagi
bimbingan skripsi sama Prof. Mul dosen pembimbingku, pas ditanya tentang ilmu
statistik untuk biologi aku gak bisa njawab padahal itu mata kuliah dasar.
Terus ditanya lagi tentang metode pembelajaran biologi jawabannya malah eng ing
eng, alias nyasar eh ngawur maksudnya. Jadilah aku dimarahi. Setelah dimarahi
tiba-tiba aku nyeletuk. “ Maaf Bu, saya jarang
belajar buku –buku biologi.” Sang profesor mengerutkan alisnya lalu
berujar, “ memangnya selama ini kamu belajar apa?”. Sambil cengar-cengir ku jawab,
“ belajar sastra Bu.” Mendengar jawabanku alis sang profesor masih saja berkerut.
“Lho, mahasiswa
biologi kok belajarnya sastra. Salah jurusan kamu.” Plak! tiba-tiba bukuku
berjatuhan. Mending buku-buku penelitian yang jatuh, lha ini malah novel.
Maklum, sambil nunggu bimbingan tadi aku baca novel dulu. Alhasil setelah
selesai bimbingan aku direkomendasikan buat mengkhatamkan buku-buku metode
penelitian dan statistik untuk olah data skripsi. Untung saja aku bekas asisten
beliau, jadi dimarahinya gak parah banget. Hihi!.
Tunggu dulu, ceritaku
belum selesai tadi cuma prolog doang. Whuat?? Jadi tadi itu baru prolog? Iya.
Baiklah baiklah sebenarnya aku mau menceritakan kisah yang satu ini. Dengarkan
baik-baik ya? Tarik napas dulu. Ceritanya begini, wuih kok mendadak merinding
ya?
Priiiitttt…
Itu tadi bunyi
peluit, tapi bukan peluit pertanda bola segera ditendang karena aku tidak
sedang bermain bola. Itu peluit tanda kereta api segera tiba di stasiun. Eh
ngomong-ngomong pernah dengar cerita tentang hantu gerbong kereta gak, itu lho
hantu yang suka gentayangan di dalam gerbong kereta pas tengah malam? Hiiiy
serem. Tapi aku sedang tidak ingin cerita horor melainkan mau cerita tentang
nyasar. Yup, karena tema cerita ini kan nyasar. Emm…pasti ada yang berpikir
kalau aku mau cerita tentang salah masuk gerbong terus dibentak-bentak sama
masinis, iyakan? Bukaaan, aku bukan mau cerita tentang itu. Lagi pula mana ada
orang naik kereta salah gerbong lalu dibentak sama masinisnya, pan masinisnya
lagi nyupir yang ada dibentak pemilik kursi gerbongnya lha iya.
Sudahlah jangan
bertele-tele langsung ceritakan saja pengalaman nyasarmu itu. Oke, oke. Jadi
ceritanya begini, tadi kan udah ada suara peluit berarti keretanya sudah datang
dan pastinya aku sedang ada di stasiun kereta api bukan lagi di kuburan hihi...
Waktu itu aku mau pulang kampung, maklum sudah satu semester kuliah di Semarang
aku belum pernah mudik. Pas libur semester itu aku baru menyempatkan diri untuk
pulang kampung. Karena besok mau libur otomatis penumpang kereta membludak,
maka jadilah stasiun dipadati oleh bejibun orang. Aku yang datang terlambat
jadi gak kebagian tempat buat nongkrong sambil nunggu kereta jurusan Tegal
datang. Kalau yang tadi datang itu kereta jurusan Cirebon. Ada sih tempat yang
masih kosong gak diduduki orang sama sekali yaitu rel kereta apinya. Tapi masa
sih aku mau nongkrong di relnya, ntar dikira orang stres mau bunuh diri lagi.
Akhirnya setelah
bolak lalu balik akhirnya aku menemukan tempat yang asyik buat nongkrong. Ada
kursi permanen (baca: terbuat dari batu dan semen) yang dikonsep seperti kafe
dan di tengahnya ada meja permanen juga. Anehnya tengahnya kok bolong ya? Tanpa
pikir panjang aku segera duduk di tempat itu. Maklum cape setelah kesana kemari
nyari tempat duduk sambil bawa ransel gede, jadi rasanya seperti menemukan oase
di tengah gurun. Lega! Pas udah pewe (baca: nyaman) tiba-tiba aku baru sadar
kalau banyak orang-orang yang ngliatin aku dari tadi. Merasa diperhatikan seperti
itu aku jadi geer, eh maksudnya penasaran. Ada apa denganku ya? Lalu aku
mengambil hape pura-pura mau baca sms padahal mau ngaca siapa tahu ada sesuatu
yang mampir di kepala atau wajahku, yang jelas bukan tahi lalat apalagi tahi
burung kan di stasiun ada gentengnya.
Setelah dilihat,
wajahku baik-baik saja bola mataku masih ada dua hidung bangirku juga masih
nangkring di posisinya, hehe.. Merasa tidak ada yang aneh dengan diriku,
akhirnya tak ku gubris pandangan mereka terhadapku. Aku mulai menikmati masa
tungguku sambil terus tilawah. Lalu tiba-tiba saja ada bapak-bapak yang duduk
di pinggirku, padahal tadi duduk di kursi panjang. Satu persatu bapak yang lain
mulai berdatangan awalnya cuma duduk-duduk saja, tak berapa lama kemudian…
“Maaf Mbak, saya
mau ngrokok dulu ya? ijin salah seorang bapak. Sambil pura-pura tersenyum aku
bilang aja, “silahkan Pak.” Aslinya sih dongkol, bagaimana tidak hak asasiku
untuk mendapat udara bersih kan jadi keganggu gegara asap rokok tadi. Tapi
tumbenan ya ada orang yang mau ngerokok trus minta ijin sama orang di sampingnya.
Biasanya kan langsung sebur aja alias
sedot lalu sembur asapnya. Aksi bapak tadi diikuti oleh bapak lainnya yang
duduk di tempat tadi. Lama-lama aku gak tahan, orang-orang tadi juga masih
melihatku dengan tatapan aneh. Untung saja waktu sholat tiba jadi aku punya
alasan untuk meninggalkan tempat tadi, sholat dulu.
Selesai sholat,
rasanya seger. Aku berencana untuk kembali ke tempat tadi, mudah-mudahan
bapaknya udah selesai merokok. Pas aku mau balik ke tempat tadi tiba-tiba,
glek! Aku menelan ludah, mataku melotot untung gak sampe copot. Ternyata eh
ternyata di samping tempat itu ada tulisan “ SMOKING AREA” pemirsah. Jadi…jadi…
dari tadi aku duduk di smoking area? Hemm…pantes saja bapak-bapak itu pada
ngrokok, ih jadi gak enak sendiri. Aku sudah jengkel sama bapak-bapak tadi
padahal sudah jelas-jelas aku yang ngrebut tempat duduk mereka. O emji, pantes
saja orang-orang pada ngliatin aku pas duduk di tempat itu. Pantas saja gak ada
orang yang duduk di tempat itu, wong itu khusus untuk perokok. Dan ternyata
meja itu bolong di tengahnya memang sengaja, sebagai tempat abu rokok. Padahal
tadi aku kira itu pot bunga yang kosong. Hadeuh! Salah siapa, ini dosa siapa
(baca: sambil dinyanyikan).
Akhirnya untuk menjauhi
tempat itu aku berpura-pura mau beli minuman. Aslinya sih malu banget. Kalau
orang yang tadi ngliatin aku mau bicara mungkin dia akan ngomong, “ rasain lu!
Makanya kalau mau duduk tuh lihat-lihat dulu jangan asal nyrobot, haha!”.
Padahal tadi udah kepedean gara-gara banyak yang ngliatin eh taunya aku yang
salah nangkring. Nasib nasib untung aja aku gak diusir dari tempat itu, coba
kalo diusir lalu ditunjukkin tulisan “ AREA SMOKING” tadi bisa-bisa mukaku rata
semua (baca: malu pake banget) atau mungkin bisa dipecat jadi mahasiswa,
pasalnya gak bisa baca tulisan yang gede-gede tadi. Parah asli!
Semenjak
kejadian itu aku lebih hati-hati kalau mau duduk di area umum, takutnya nyasar
tempat duduk lagi. Kalaupun gak nyasar barangkali ada tahi ayam nempel, hiiyy
jorok deh! Lagipula mana ada ayam nyasar ke tempat umum seperti stasiun,
kecuali ayamnya penumpang kereta tadi. Yup, bisa jadi bisa jadi.
Nah, akibat
sering nyasar aku jadi punya tips sendiri untuk mengatasinya. Pertama,
sekarangkan hape udah canggih ada kameranya jadi biasanya aku menggunakan
kamera hape untuk memotret jalan supaya gampang kalau mencari jalan keluar,
jangan malu untuk bertanya pada orang yang tahu ingat pepatah malu bertanya
sesat di jalan, pepatah itu juga berlaku untuk peristiwa nyasar lainnya bukan
cuma nyasar di jalan, misalnya nih kita belum tahu hukumnya kentut di tempat
umum supaya tahu ya harus tanya sama ahlinya jadi kentutnya tepat sasaran (ih
jorok deh!). Terakhir, tentu saja berdoa pada Allah agar senantiasa ditunjukkan
pada jalan yang lurus (baca: jalan yang benar meskipun jalan sebenarnya
berkelok-kelok ^_^).
Ya sudah, begitu
ya teman-teman semoga bermanfaat ceritanya. Aku mau pulang dulu. Eh, tadi aku
lewat jalan mana ya? Kok pintunya gak ada? Tiba-tiba aku mendadak pikun lagi.*
Tepok jidat.


