Sabtu, 28 Februari 2015

Salah Sasaran






Hidup adalah perjalanan, so pasti tak lepas dari yang namanya nyasar. Iya, nyasar! Ada banyak cerita nyasar yang ingin ku ungkap di sini, tapi mungkin tak akan habis dikupas dalam sehari. Misalnya saja ketika kecil aku suka sekali nyasar alias salah jalan, kalau nyasarnya di luar kota sih mungkin wajar, tapi ini nyasarnya di dalam kota sendiri. Lucu kan? Kota yang sudah sering ku lewati tapi tiba-tiba jadi lupa jalan pulangnya. Aku sempat khawatir jangan-jangan aku udah pikun. Ah, gak mungkin kan masih kepala satu masa udah pikun.
Hal yang membuatku paling takut adalah ketika nyasar di dalam goa. Pas lagi asyik-asyiknya menyusuri goa bawah tanah dalam suatu event kampus, tiba-tiba ketemu jalan buntu. Deg! Aku syok, mana gak bawa senter lagi. Hape juga gak bawa. Akhirnya aku tenang sejenak, mencoba mengingat jalan keluarnya meskipun sebenarnya aku was-was. Bagaimana kalau tiba-tiba ada ular naga atau makhluk halus kayak di tipi-tipi? Mending kalau yang datang Si Buta dari Goa Hantu aku bisa minta dianterin pulang sekalian. Soalnya meskipun doi buta tapi sakti. Ah, kutepis segala pikiran buruk dan akhirnya...Aha! lampu di kepalaku menyala pertanda wangsit (baca: ilham/petunjuk) sudah datang.
Aku mencoba untuk tetap konsentrasi menyusuri lorong goa. Tanganku memegang tongkat sebagai penunjuk jalan, takut kalau-kalau menabrak dinding goa. Maklum di dalam gelap banget. Hal kayak gini membuatku bersyukur. Iya lah, harusnya kita bersyukur diberi mata normal. Bisa melihat dunia ini dengan jelas. Bayangkan kalau kita buta? Ngeri kan? Yup, mari kita syukuri nikmat tuhan yang satu ini. Eh, kembali ke goa tadi. Sambil menyusuri lorong yang gelap, mulutku tak henti komat-kamit. Merapal mantra tak henti, berharap tuhan segera menunjukkan jalan tuk kembali. Cieehh, meski takut masih juga sok puitis. Tak apalah toh di dalam goa gak ada gerimis. Lho, apa hubungannya puitis sama gerimis? Ya ada lah, biasanya nih kalau lagi gerimis orang itu bawaannya suka romantis jadinya sok puitis kalo gak percaya nanya aja ma Azis! Haha, nglantur lagi. 

Pendek cerita setelah sempat nabrak dinding sana-sini, untung gak sampe benjut (perasaan tadi bawa tongkat ko nabrak? Iya maksudnya tongkatnya yang nabrak, haha) akhirnya ketemu juga jalannya. Aku mengikuti arah aliran udara dalam goa, perlahan akhirnya ku temukan celah dan…hap! Aku meloncat keluar. Horee, aku selamat.
Cerita tentang nyasarku belum selesai sampe di sini, masih banyak cerita jalan nyasar lainnya. Mulai dari nyasar naik angkot sampe nyasar jurusan kuliah. Yup, banyak bukan cerita nyasarku? Yah, seperti yang ku bilang tadi hidup adalah perjalanan jadi wajar kalo nyasar. Malah gak wajar kalo gak pernah kesasar, haha!
Ini ceritanya tentang aku yang katanya, katanya lho ya bukan kataku. Kata profesorku aku itu mahasiswa salah jurusan! Lho, kok bisa? Bisa saja wong aku lebih suka baca buku-buku lain dibanding diklat kuliahku. Ceritanya waktu itu aku lagi bimbingan skripsi sama Prof. Mul dosen pembimbingku, pas ditanya tentang ilmu statistik untuk biologi aku gak bisa njawab padahal itu mata kuliah dasar. Terus ditanya lagi tentang metode pembelajaran biologi jawabannya malah eng ing eng, alias nyasar eh ngawur maksudnya. Jadilah aku dimarahi. Setelah dimarahi tiba-tiba aku nyeletuk. “ Maaf Bu, saya jarang  belajar buku –buku biologi.” Sang profesor mengerutkan alisnya lalu berujar, “ memangnya selama ini kamu belajar apa?”. Sambil cengar-cengir ku jawab, “ belajar sastra Bu.” Mendengar jawabanku alis sang profesor masih saja berkerut.   
“Lho, mahasiswa biologi kok belajarnya sastra. Salah jurusan kamu.” Plak! tiba-tiba bukuku berjatuhan. Mending buku-buku penelitian yang jatuh, lha ini malah novel. Maklum, sambil nunggu bimbingan tadi aku baca novel dulu. Alhasil setelah selesai bimbingan aku direkomendasikan buat mengkhatamkan buku-buku metode penelitian dan statistik untuk olah data skripsi. Untung saja aku bekas asisten beliau, jadi dimarahinya gak parah banget. Hihi!.
Tunggu dulu, ceritaku belum selesai tadi cuma prolog doang. Whuat?? Jadi tadi itu baru prolog? Iya. Baiklah baiklah sebenarnya aku mau menceritakan kisah yang satu ini. Dengarkan baik-baik ya? Tarik napas dulu. Ceritanya begini, wuih kok mendadak merinding ya?
Priiiitttt…
Itu tadi bunyi peluit, tapi bukan peluit pertanda bola segera ditendang karena aku tidak sedang bermain bola. Itu peluit tanda kereta api segera tiba di stasiun. Eh ngomong-ngomong pernah dengar cerita tentang hantu gerbong kereta gak, itu lho hantu yang suka gentayangan di dalam gerbong kereta pas tengah malam? Hiiiy serem. Tapi aku sedang tidak ingin cerita horor melainkan mau cerita tentang nyasar. Yup, karena tema cerita ini kan nyasar. Emm…pasti ada yang berpikir kalau aku mau cerita tentang salah masuk gerbong terus dibentak-bentak sama masinis, iyakan? Bukaaan, aku bukan mau cerita tentang itu. Lagi pula mana ada orang naik kereta salah gerbong lalu dibentak sama masinisnya, pan masinisnya lagi nyupir yang ada dibentak pemilik kursi gerbongnya lha iya.
Sudahlah jangan bertele-tele langsung ceritakan saja pengalaman nyasarmu itu. Oke, oke. Jadi ceritanya begini, tadi kan udah ada suara peluit berarti keretanya sudah datang dan pastinya aku sedang ada di stasiun kereta api bukan lagi di kuburan hihi... Waktu itu aku mau pulang kampung, maklum sudah satu semester kuliah di Semarang aku belum pernah mudik. Pas libur semester itu aku baru menyempatkan diri untuk pulang kampung. Karena besok mau libur otomatis penumpang kereta membludak, maka jadilah stasiun dipadati oleh bejibun orang. Aku yang datang terlambat jadi gak kebagian tempat buat nongkrong sambil nunggu kereta jurusan Tegal datang. Kalau yang tadi datang itu kereta jurusan Cirebon. Ada sih tempat yang masih kosong gak diduduki orang sama sekali yaitu rel kereta apinya. Tapi masa sih aku mau nongkrong di relnya, ntar dikira orang stres mau bunuh diri lagi.
Akhirnya setelah bolak lalu balik akhirnya aku menemukan tempat yang asyik buat nongkrong. Ada kursi permanen (baca: terbuat dari batu dan semen) yang dikonsep seperti kafe dan di tengahnya ada meja permanen juga. Anehnya tengahnya kok bolong ya? Tanpa pikir panjang aku segera duduk di tempat itu. Maklum cape setelah kesana kemari nyari tempat duduk sambil bawa ransel gede, jadi rasanya seperti menemukan oase di tengah gurun. Lega! Pas udah pewe (baca: nyaman) tiba-tiba aku baru sadar kalau banyak orang-orang yang ngliatin aku dari tadi. Merasa diperhatikan seperti itu aku jadi geer, eh maksudnya penasaran. Ada apa denganku ya? Lalu aku mengambil hape pura-pura mau baca sms padahal mau ngaca siapa tahu ada sesuatu yang mampir di kepala atau wajahku, yang jelas bukan tahi lalat apalagi tahi burung kan di stasiun ada gentengnya.
Setelah dilihat, wajahku baik-baik saja bola mataku masih ada dua hidung bangirku juga masih nangkring di posisinya, hehe.. Merasa tidak ada yang aneh dengan diriku, akhirnya tak ku gubris pandangan mereka terhadapku. Aku mulai menikmati masa tungguku sambil terus tilawah. Lalu tiba-tiba saja ada bapak-bapak yang duduk di pinggirku, padahal tadi duduk di kursi panjang. Satu persatu bapak yang lain mulai berdatangan awalnya cuma duduk-duduk saja, tak berapa lama kemudian…
“Maaf Mbak, saya mau ngrokok dulu ya? ijin salah seorang bapak. Sambil pura-pura tersenyum aku bilang aja, “silahkan Pak.” Aslinya sih dongkol, bagaimana tidak hak asasiku untuk mendapat udara bersih kan jadi keganggu gegara asap rokok tadi. Tapi tumbenan ya ada orang yang mau ngerokok trus minta ijin sama orang di sampingnya. Biasanya kan  langsung sebur aja alias sedot lalu sembur asapnya. Aksi bapak tadi diikuti oleh bapak lainnya yang duduk di tempat tadi. Lama-lama aku gak tahan, orang-orang tadi juga masih melihatku dengan tatapan aneh. Untung saja waktu sholat tiba jadi aku punya alasan untuk meninggalkan tempat tadi, sholat dulu.
Selesai sholat, rasanya seger. Aku berencana untuk kembali ke tempat tadi, mudah-mudahan bapaknya udah selesai merokok. Pas aku mau balik ke tempat tadi tiba-tiba, glek! Aku menelan ludah, mataku melotot untung gak sampe copot. Ternyata eh ternyata di samping tempat itu ada tulisan “ SMOKING AREA” pemirsah. Jadi…jadi… dari tadi aku duduk di smoking area? Hemm…pantes saja bapak-bapak itu pada ngrokok, ih jadi gak enak sendiri. Aku sudah jengkel sama bapak-bapak tadi padahal sudah jelas-jelas aku yang ngrebut tempat duduk mereka. O emji, pantes saja orang-orang pada ngliatin aku pas duduk di tempat itu. Pantas saja gak ada orang yang duduk di tempat itu, wong itu khusus untuk perokok. Dan ternyata meja itu bolong di tengahnya memang sengaja, sebagai tempat abu rokok. Padahal tadi aku kira itu pot bunga yang kosong. Hadeuh! Salah siapa, ini dosa siapa (baca: sambil dinyanyikan).
Akhirnya untuk menjauhi tempat itu aku berpura-pura mau beli minuman. Aslinya sih malu banget. Kalau orang yang tadi ngliatin aku mau bicara mungkin dia akan ngomong, “ rasain lu! Makanya kalau mau duduk tuh lihat-lihat dulu jangan asal nyrobot, haha!”. Padahal tadi udah kepedean gara-gara banyak yang ngliatin eh taunya aku yang salah nangkring. Nasib nasib untung aja aku gak diusir dari tempat itu, coba kalo diusir lalu ditunjukkin tulisan “ AREA SMOKING” tadi bisa-bisa mukaku rata semua (baca: malu pake banget) atau mungkin bisa dipecat jadi mahasiswa, pasalnya gak bisa baca tulisan yang gede-gede tadi. Parah asli!

Semenjak kejadian itu aku lebih hati-hati kalau mau duduk di area umum, takutnya nyasar tempat duduk lagi. Kalaupun gak nyasar barangkali ada tahi ayam nempel, hiiyy jorok deh! Lagipula mana ada ayam nyasar ke tempat umum seperti stasiun, kecuali ayamnya penumpang kereta tadi. Yup, bisa jadi bisa jadi.
Nah, akibat sering nyasar aku jadi punya tips sendiri untuk mengatasinya. Pertama, sekarangkan hape udah canggih ada kameranya jadi biasanya aku menggunakan kamera hape untuk memotret jalan supaya gampang kalau mencari jalan keluar, jangan malu untuk bertanya pada orang yang tahu ingat pepatah malu bertanya sesat di jalan, pepatah itu juga berlaku untuk peristiwa nyasar lainnya bukan cuma nyasar di jalan, misalnya nih kita belum tahu hukumnya kentut di tempat umum supaya tahu ya harus tanya sama ahlinya jadi kentutnya tepat sasaran (ih jorok deh!). Terakhir, tentu saja berdoa pada Allah agar senantiasa ditunjukkan pada jalan yang lurus (baca: jalan yang benar meskipun jalan sebenarnya berkelok-kelok ^_^).
Ya sudah, begitu ya teman-teman semoga bermanfaat ceritanya. Aku mau pulang dulu. Eh, tadi aku lewat jalan mana ya? Kok pintunya gak ada? Tiba-tiba aku mendadak pikun lagi.* Tepok jidat.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar