Jumat, 03 April 2015

Antara Dua Koma Tiga Enam sampai Empat Koma Nol Nol





Dua koma tiga enam, Anda berada di titik koordinat yang berbahaya. Hati-Hati. Klik!
Ini kisahku teman, tentang sebuah kegagalan yang menampar. Perihnya tak hanya di pipi namun terasa ke hati. Andai dulu aku tak menghambur-hamburkan waktu, andai dulu aku tak bermalas-malasan, andai dulu aku tak menunda-nunda. Mungkin …mungkin…ah! Persetan dengan andai!
 Pagi itu terasa berat bagiku, jika aku boleh meminta tak usahlah ada pagi. Biar malam saja, agar aku tak terbangun dari mimpi-mimpiku. Agar aku tak melukai hati orang yang aku cintai di dunia, bapak.
Betapa berat perjuangan beliau untuk mengantarkanku pada gerbang kesuksesan. Pada gerbang impian yang selalu ku ketuk, sebuah mimpi yang tak murah untuk mewujudkannya. Lalu bagaimana jika pagi-pagi ini semua harapan itu kandas, gerbang pun ambruk oleh keroposnya semangat dan lemahnya kerja keras. Sungguh betapa durhakanya aku pagi itu.
 “Kapan kau akan ke warnet Nur? Bapak ingin melihat nilaimu semester ini. Sudah lama bapak tidak melihatnya, mudah-mudahan nilai semester limamu lebih baik.”
Duh, kata-kata itu membuat pagiku semakin terasa berat. Entahlah aku seperti bisa merasakan hal buruk akan menimpaku.
            Berat kulangkahkan kaki menuju warnet. Bismillahi tawakkaltu…
Nur?” baru saja aku hendak keluar, Bapak memanggilku lagi.
“Bapak ikut ya?”
Aku terhenyak. Ingin rasanya aku berdalih agar bapak tak usah ikut ke warnet, namun aku tak sanggup menolak keinginan beliau.
***
“Kenapa loadingnya lama sekali Nur? Sudah hampir lima belas menit kita menunggu. Apa sistem informasi akademik kampusmu lagi rusak?”
Maafkan aku pak, aku memang belum memasukkan alamat email dan nomor indukku. Sungguh maafkan aku pak, jika nanti melukai hatimu. Aku takut banyak nilai C atau D yang menertawaiku. Perang batinku terus berkecamuk, tak sepatah katapun aku ucapkan. Aku tak berani menjawab pertanyaan bapak.
Ya Allah tolonglah hamba, haruskah aku berbohong pada bapak sehingga aku tak perlu menunjukkan nilaiku saat ini? Sungguh aku belum siap jika nanti hasilnya mengecewakan. Ku tarik napas, dalam. Perlahan kurangkai kata.
“Apa bapak akan marah jika nilaiku jelek?” Bapak terdiam sebentar.
“Bapak tidak akan marah, jika memang kemampuanmu cuma segitu mau gimana lagi?”
Tak berani aku menatap wajahnya, namun aku bisa merasakan nada kecewa andai hal itu benar terjadi.
Bismillah. Klik!
MasyaAllah! Aku ingin menangis, aku ingin berteriak, aku ingin berlutut dan mencium tangan bapak. Kau lihat teman, nilai C dan D tertawa mengejek kepadaku tega sekali mereka tertawa di atas penderitaanku. Ah, tak pantas aku menyalahkan mereka karena akulah yang membuat mereka mampir di transkrip nilaiku.
Ku pandangi semua nilai di transkripku, layar komputer terlihat mendung seolah mengerti kesedihanku. Tak sepatah katapun keluar dari mulut bapak. Beliau pasti sangat kecewa, ku lihat kepala beliau mendekat ke monitor seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Anak kesayangannya hanya mendapat IP (Indeks Prestasi) 2,36.
MasyaAllah! Tega sekali aku melukai bapakku. Biaya kuliah tak murah tapi aku malah menyia-nyiakannya. Bayangkan teman! Apa yang akan kau lakukan dengan IP 2,36? Kau menyaksikannya dengan bapakmu, orang yang membiayai kuliahmu. Andaikan aku jadi bapak mungkin akan ku tampar wajah anakku itu. Tapi sungguh bapak adalah orang yang penyabar.
Dua koma tiga enam. Sungguh jauh dari kata berhasil, ini IP terendahku selama aku kuliah. Aku memang pernah mendapat nilai jelek sebelumnya, tapi nilaiku kali ini benar-benar tamparan bagiku. Dua koma tiga enam adalah nilai yang bahaya. Hanya 20 SKS saja yang bisa kuambil, tak lebih. Maafkan aku bapak.
Sesampainya di rumah, bapak hanya diam. Tak sepatah katapun keluar dari bibirnya.
  “Bapak kecewa padaku?”
Tak ada jawaban. Aku tak berani menatap wajahnya.
“Hentikan semua aktivitasmu di organisasi, fokus pada kuliahmu.” Kalimat beliau datar tapi bagai sambaran kilat di telingaku. Sungguh, aku tak bisa meninggalkan aktivitasku, aku tak mau keluar dari organisasiku. Ia sudah seperti nafasku. Kegagalanku bukan karena aktivitas organisasi tapi karena kemalasan yang kubuat sendiri.
“Tidak Pak, aku tidak bisa meninggalkan organisasiku. Lagipula organisasi dan aktivitasku di luar kuliah sangat menunjang profesiku sebagai guru jika aku lulus nanti. Ijinkan aku tetap di sana Pak? Aku berjanji akan memperbaiki semuanya, akan kubuktikan bahwa organisasi bukanlah penghambat untuk tetap berprestasi. Beri aku kesempatan lagi Pak.” Aku menangis, menghiba.
 “Mohon, ijinkan aku memperbaikinya tanpa harus meninggalkan aktivitasku.” Bapak masih diam, lalu memandangku. Kemudian tertunduk.
“ Baiklah.” 

***
Libur telah usai, kembali ku hirup udara kampus. Lebih dari dua minggu aku meninggalkannya. Dua koma tiga enam, angka-angka itu masih tertawa mengejek. Ah, lihat saja nanti.
Meski masih terasa penat, kucoba tuk rapikan kamar. Berharap mendapatkan kembali semangat belajar yang sempat redup. Takkan ada lagi pemakluman untuk sebuah kemalasan. Tahun ini harus lebih baik!
Aku ingat sebuah petuah Man jadda wa jada! Aku harus merubah cara belajarku, lalu ku atur strategi belajar yang jitu.
            Pintu kamar ku buka lebar-lebar, mengajak diskusi teman-teman kos yang sejurusan, saling tukar pikiran, latihan soal, menuliskan rumus, menghafal proses, membuat catatan kecil, mengulang materi kuliah, selalu memanfaatkan waktu untuk membaca sampai ke kamar mandipun membawa catatan kecil untuk dihafalkan. Tak peduli, yang penting kali ini harus sukses. Atur waktu dengan baik, belajar rutin, ibadah rajin, organisasi diperhatiin, lampu kamar tidak lupa dimatiin dan akhirnya bebas dari tekanan batin.
Singkat cerita. Ujian semester enam berakhir. Tibalah detik yang mendebarkan. Berharap tak ada lagi nilai C dan D yang menertawaiku.
Aku sudah sampai di rumah, menanti pagi. Yudisium, hasil ujian akan segera ditayangkan. Biasanya banyak  mahasiswa mengantri di warnet atau online di sekitar kampus untuk menyaksikan film prestasi mereka ditayangkan dalam sebuah transkrip nilai. Hari ini terasa begitu tegang. Aku tahu teman, Allah itu Maha Adil. Man jadda wa jada.
Aku tak perlu mengantri di warnet. Aku masih belum berani. Aku ingin memastikan dulu nilaiku baik, baru akan kutunjukkan pada bapak. Tak ingin lagi kumelihat gurat kecewa di wajahnya. Aku buka ponselku, ku ketik kode dari kampusku lalu ku masukkan nomor indukku. Segera kukirimkan pada nomor sistem akademik dan tit…tit…tiiit. Pesan dari kampus. Bismillah.
Aku tak kuat melihatnya. Tubuhku limbung, kusungkurkan kepalaku di tanah, kubiarkan hujan turun dari mataku. Kucium tanah berulangkali.
“ Mba Nur ngapain? Ko tanah diciumi?”
Aku bangkit dari sujudku. “ Gak kenapa-napa Dik, mba lagi latihan akting he…he…he…”
Mungkin adikku heran melihatku menciumi tanah, maklum dia tidak mengerti kalau aku sedang sujud syukur.
Tahukah teman, berapa IP ku kali ini? Tak banyak memang. Tapi cukup membuatku tersenyum lebar. Tiga koma delapan belas. Lumayan untuk mata kuliah sains biologi. Tak ada nilai C dan D lagi yang tertawa mengejekku. Terima kasih Allah. Dan di semester yang terakhir Allah memberi IP mumtaz 4,00. Klik!!!

Itulah kisahku teman. Tak perlu menunggu gagal jika ingin meraih kesuksesan. Tak perlu menunggu teguran dari Allah untuk bangkit dari kemalasan. Jangan berhenti pada nilai A saja jika kau masih mampu mendapatkan nilai A++. Semangat berusaha. Manjadda wa jada! Tersenyumlah dan Jangan Bosan ^_^


Tidak ada komentar:

Posting Komentar