Jumat, 28 Februari 2014

Kita Masih Menatap Bintang di Langit yang Sama

Tadi pagi seperti biasa, aku membersamai kalian mengeja huruf dan angka-angka penuh makna. Tak ada sedikitpun lintasan bahwa hal itu akan terjadi. Mata-mata yang bening, bibir yang sesekali tersenyum, bahkan atraksi-atraksi heboh ala kalian masih memenuhi ruang ilmu. Hingga tiba-tiba, kalian berhenti tertawa, hening, lalu berdecitlah langkah-langkah yang tercipta dari perempuan gagah itu. Tak seperti biasanya, kau datang dengan tergopoh-gopoh, lalu mendekatkan bibirmu ke telingaku. Ada geli tercipta lantaran nafasmu memenuhi rongga telingaku. Namun hatiku lebih geli mendengar apa yang kau sampaikan. Aih, separah itukah? Apakah kecongkakan akan selalu menang? Menindas orang-orang yang tak sejalan dengan mereka yang belum tentu benar kebijakannya. Apakah penguasa itu memang selalu berbuat sekehendaknya, tak peduli apa akibat dari setiap kebijakan yang cenderung fanatik dan nepotisme? Entahlah, yang jelas aku sangat membenci kearoganan.

Suara perempuan yang biasa lantang itu, kini berubah menjadi lamat-lamat, bahkan sesekali terdengar isakan. Aku belum berani menatapmu, hanya telinga yang ku pasang baik-baik, mendengarkan segala desah yang tercurah lantaran resah. Aku berusaha menahan kegelian yang melandaku, mencoba untuk tidak larut dalam derai tangisnya, buliran itu ku tahan. Ku pandangi wajah-wajah mungil di hadapan kami, mungkin anak-anak bertanya " apa yang sebenarnya terjadi?" pun aku tak sanggup menatap mata mereka. Setelah tangis itu mereda, barulah aku berani menatap matanya.


"kemanapun aku pergi, aku akan membawamu serta." itu kata terakhir yang terucap sebelum perempuan gagah itu berlalu. Entah apa yang harus ku katakan padanya. Aku tersenyum menguatkan, lalu ku pandangi lagi wajah-wajah lugu di hadapan kami. Aku tak tega, batinku.

"Bu, sebenarnya ada apa? kenapa bu kepsek menangis?" semua murid bertanya-tanya.
Aku hanya tersenyum, "itu karena bu kepsek sayang sama kalian."
"Bu, siapa yang akan pindah, tadi aku mendengar katanya ada yang mau pindah. Siapa Bu?"
Aku masih tersenyum lalu menggeleng. Spontan aku melontarkan pertanyaan, "Bagaimana kalau ibu tiba-tiba pergi meninggalkan kalian?" Anak-anak terlihat kaget.
"Laahhh..jangan sih Bu."
"Ibu jangan pindah."
"Pokoknya kalau ibu pindah, aku gak mau sekolah. Jadi gelandangan saja!"
"Iya, aku juga mau mbolos."
"Aku akan ikut kemana ibu mengajar!"
"Aku mau kelas lima nanti di ajar sama ibu aja."
"Jangan pergi ya bu?"
Aku tidak tega mendengar kata-kata mereka.
"Ibu tidak akan pergi, kita akan tetap menatap fajar di bawah atap yang sama, tetap akan melihat bintang di langit yang sama. Apapun yang terjadi kalian harus tetap sekolah, dengan atau tanpa diriku. Aku yakin Alloh akan mengirimkan kalian malaikat yang lebih baik. Tetap tersenyum dan jangan bosan. Maafkan aku jika harus meninggalkan kalian sebelum kuncup apalagi mekar. Meski raga tak lagi membersamai, aku tetap mencintai kalian dengan tanpa keraguan...
Dalam ruang bernama kebimbangan, 28 Februari 2014

Selasa, 11 Februari 2014

Aku Mencintaimu dengan tanpa Keraguan III

Aku mencintaimu dengan tanpa keraguan di dalamnya..
Saat tubuh ini terasa penat
aku ingin berlari
mengejar semangat kalian
saat hati terasa jemu
aku ingin berlari
mengambil senyum yang mengambang pada bibir kalian
Lelah, pergilah!
................................................................................................................................................................
.."Assalamu'alaikuuum.....". Duhai,... kalian? Kulihat satu persatu wajah mereka, senyum mungil tergambar.
Ternyata aku tak perlu berlari, karena senyum itu menghampiriku sendiri. Rumah ramai, anak-anak sekelas pada main. Aih jadi merasa dicintai. Semuanya pada berebut ingin bercerita.
"Bu, sebelum aku kenal ibu, aku selalu melihat ibu di atas sini, lalu aku bertanya pada diri, "Siapa perempuan itu? cantik sekali. Eh ternyata sekarang aku jadi muridmu." celoteh satu di antara mereka, anak itulah yang suka memelukku. Aku hanya tersenyum, yang lain berceloteh lagi.
"Bu, bu..sebelumnya aku pernah melihat rumah ini. aku ingin sekali masuk lalu naik ke rumah ini. Eh ternyata sekarang jadi kenyataan aku bisa main ke sini." Lagi-lagi aku tersenyum, anak-anak memang polos. Ternyata jauh sebelum aku mengenal mereka dan menjadi bagian dari mereka Alloh telah mengenalkan hati-hati kami. Dan karena Alloh lah aku mencintai kalian dengan tanpa keraguan. Yang terakhir bicara tadi itu namanya Mus, panjangnya Nur Mustikasari. Dia anak yang pandai, hanya saja kadang masih malu-malu.
"Lah, aku gak mau ikut olimpiade Bu?"
"Kenapa?"
Kau hanya menggeleng, lalu diam. Aku menatapnya.
"Aku tidak bisa Bu." katamu
"Aih, jangan menyerah dulu kan belum dicoba. Lihat temanmu yang lain mereka mau mencoba. Bagaimana? Mus ikut ya?". Kau masih diam, menatapku lalu tersenyum.
"Iya wis, hehe..." Hehe..akupun ikut tertawa.




Duhai, jangan bersedih
karena saat ini dukamu menjadi dukaku
tersenyumlah ^_^
"Ibu, Endang nangis Bu?"
"Kenapa?"
"Tasnya rusak lagi, jatuh lalu  keinjek Diki, pengaitnya lepas."
Aku dekati Endang, dia menangis. Suaranya lirih, terisak.
Aku membelai kepalanya. "Tak apa Endang, tasnya masih bisa diperbaiki."
Tak ada jawaban, masih terisak. Setelah terhening, baru kau bicara.
"Nanti dimarahi ibu lagi Bu, soalnya itu baru beli."
"Tidak, gak akan dimarahi ko. Nanti pulangnya dianter sama Desi dan Mus ya?" kataku sambil melirik mereka. Desi dan Mus mengangguk. Lalu kupanggil Diki, dia menyesal. Nanti akan diganti pengaitnya.

Esok paginya...
Seorang ibu datang ke sekolah sambil membawa tas rusak. Ternyata ibunya Endang, kuhampiri.
"Endangnya gak mau sekolah Bu,  katanya tasnya rusak. Saya mau tanya siapa yang ngrusak."
"Oh, insyaAlloh nanti diganti pengaitnya Bu." lalu kami menemui Emaknya Diki yang kebetulan jualan di kantin sekolah. Masalahpun beres. Bagaimana dengan Endang?
"Anak-anak, ayo jemput Endang ke rumahnya agar dia mau masuk ya?." Anak-anak mengangguk lalu bergegas menuju rumah Endang. 
Sekecil apapun masalahnya, pasti selalu ada jalan keluar.
Endang, sitiophobia. Takut makan, terutama nasi. Suatu saat kau pasti bisa makan nasi, seperti yang lain.
Belajar yang tekun ya Nak? Karena aku tahu kau cerdas. Aku menyukai senyummu, pun mencintaimu dengan tanpa keraguan!

Ku lihat, langit di luar gelap
barangkali mendung tengah merindu pada hujan
tapi pekatnya awan tak meredupkan wajahmu
kau terlihat tenang, santai
tanganmu tak henti menyoretkan crayon pada kertas
melukiskan hidup penuh makna
aku suka coretan pensilmu
menghubungkan titik-titik menjadi garis
lalu mengubah, menjadi bentuk yang bermakna

Titi Ropiyanti, berjuanglah untuk hari besarmu
taklukkan dunia dengan imajimu
suatu saat kau kan bisa membangun lukisan hidupmu di surga

Dan saat crayon mulai memendek
tak sanggup lagi mewarnai
masih ada cintaku yang seperti kuku
yang takkan habis meskipun kau memotongnya
karena cintaku fillah
mengakar dalam dekap iman
ana uhibbukum fillah....
..to be continue..._^





Minggu, 02 Februari 2014

Aku Mencintaimu dengan tanpa Keraguan II

Aku mencintaimu dengan tanpa keraguan di dalamnya...
Ini bukan yang pertama kali kau pergi
meninggalkan sekolah tanpa kabar
dulu kau begitu, lalu sekarang kau ulangi
kenapa?
adakah sekolah membuatmu bosan?
adakah kau terkekang?
katakanlah!
ada bu guru di sini
"Lilis gak masuk lagi Bu?" kata temanmu. Oh, sudah berapa kali kau tak masuk?
"Kenapa katanya?"
"Tak tahu Bu. Lilis lari lalu sembunyi."
"Orang tuanya?"
"Mereka diam saja, acuh!"
"Oh, benarkah?"
Bagaimana ini? Mau jadi apa kelak muridku ini

Pagi itu masih segar pun mentari mengajakku bernyanyi
"Ayo kita sambangi Lilis Bu!" kata Kepsek.
"Oh tentu!"
Kami berjalan menyusuri jalan setapak, blusukan kalau meminjam istilahnya pejabat
Tapi bukan blusukan untuk pencitraan apalagi sampai diliput media
tapi demi menjemput mutiara bangsa yang semoga kelak menjadi pondasi negri

"Kau mau sekolah atau tidak?"
"Mau Bu," katamu. Kulihat kau ketakutan, ada apa?
"Berangkat ya?"
Kau mengangguk. Aku senang, tiada terkira karena aku tahu sebenarnya kau pintar.
"Apa kau bosan sekolah?" kau diam, sepanjang jalan hanya diam. 
"Mbantu emak mbrondol bawang Bu." Aih, kau cari uang rupanya. Tapi bukankah sekolah gratis?
Oh, mungkin buat makan sehari- hari...
tapi bukannya dapat BSM ya?
Aduh! malang sekali nasibnya jika putus sekolah lantaran membantu emaknya cari uang.
Kalau sudah begini siapa yang salah?
Ah, tak penting siapa yang salah
yang terpenting aku bisa membawamu kembali ke sekolah
karena aku mencintaimu dengan tanpa keraguan!


 Hari ini kau diam, tak seperti biasanya...
Kenapa Man?
Kau hanya menunduk. Akupun perhatikan, lalu kulempar senyum termanisku untukmu
Kau masih menunduk. Aku dekati, aku puji. 
"Hari ini kau rajin, ibu senang Man."
Kau masih diam, tapi lebih semangat.
Biasanya kau rame dan suka ngelawak, tapi kali ini jadi pendiam, rajin malah.
Oh rupanya kau sedang tak baikan dengan temanmu, kau sedang tak nyaman dengan mereka? Oke!
"Ayo anak-anak kita permainan dulu!"
Gerrrr....seluruh kelas ramai, kompak lalu perlahan larut dalam permainan
semua senang, semua tertawa dan kau Rokman ceria lagi seperti biasa
akupun senang, karena aku mencintaimu dengan tanpa keraguan!


Melihatmu, seperti aku melihat diriku saat SD dulu. Tomboy dan gagah. Bedanya dulu aku galak, tapi kau masih sering kalah.
Aku selalu jadi pahlawan  buat teman-teman perempuanku, pun adikku. Rasa-rasanya tak ada anak yang berani padaku, hehe...
Satu hal yang aku takutkan darimu: kau akan menghilang!
Ya, katanya dulu kau pernah menghilang tak mau sekolah. Entah aku tak tahu sebabnya.
Maka aku lebih hati-hati terhadapmu, berusaha membuatmu nyaman di sekolah.
Aku tak peduli meski kau merangkul tanganku dan sesekali memeluk pinggangku
Desi, kau satu-satunya murid yang berani bergelayut manja padaku
mencari celah untuk kuperhatikan dan akupun senang 
bisa menjadi sahabat bagi anak-anak
Tetaplah di sini Des, sampai saatnya kau benar-benar harus pergi
karena aku mencintaimu dengan tanpa keraguan!

Berlari dan terus berlari!
Huh, anak ini!
Kecil, gesit dan kadang usil. Aku kira kau pendiam, ternyata kau hampir sama dengan Kasidin
Rame, kadang suka njahilin anak perempuan
Oke, aku tahu bagaimana cara membuatmu diam
"Baik anak-anak, kalian boleh menggambar bebas! Nanti akan ibu nilai."
"Horeee...." anak-anak bersemangat.
Pelajaran menggambar memang mengasyikkan, tak terkecuali kau..Ferdi!
Demi mendapatkan nilai gambar terbaik kau berusaha sebaik mungkin
Konsentrasi, kelas pun khusyuk. Aku tersenyum, memandangmu penuh arti.

"Selamat Ferdi, gambarmu bagus!"
Kau pun tersipu..lalu diam
Nah gitu dong yang anteng jangan petakilan ^_^

Yes misi selesai, nah waktunya pulang berdoa dulu yuk!


Duhai anak-anakku tersayang tetaplah di sini
jangan pergi, sebelum saatnya kalian harus benar-benar pergi
karena aku mencintai kalian dengan tanpa keraguan!

to be continue...^_^