Selasa, 11 Februari 2014

Aku Mencintaimu dengan tanpa Keraguan III

Aku mencintaimu dengan tanpa keraguan di dalamnya..
Saat tubuh ini terasa penat
aku ingin berlari
mengejar semangat kalian
saat hati terasa jemu
aku ingin berlari
mengambil senyum yang mengambang pada bibir kalian
Lelah, pergilah!
................................................................................................................................................................
.."Assalamu'alaikuuum.....". Duhai,... kalian? Kulihat satu persatu wajah mereka, senyum mungil tergambar.
Ternyata aku tak perlu berlari, karena senyum itu menghampiriku sendiri. Rumah ramai, anak-anak sekelas pada main. Aih jadi merasa dicintai. Semuanya pada berebut ingin bercerita.
"Bu, sebelum aku kenal ibu, aku selalu melihat ibu di atas sini, lalu aku bertanya pada diri, "Siapa perempuan itu? cantik sekali. Eh ternyata sekarang aku jadi muridmu." celoteh satu di antara mereka, anak itulah yang suka memelukku. Aku hanya tersenyum, yang lain berceloteh lagi.
"Bu, bu..sebelumnya aku pernah melihat rumah ini. aku ingin sekali masuk lalu naik ke rumah ini. Eh ternyata sekarang jadi kenyataan aku bisa main ke sini." Lagi-lagi aku tersenyum, anak-anak memang polos. Ternyata jauh sebelum aku mengenal mereka dan menjadi bagian dari mereka Alloh telah mengenalkan hati-hati kami. Dan karena Alloh lah aku mencintai kalian dengan tanpa keraguan. Yang terakhir bicara tadi itu namanya Mus, panjangnya Nur Mustikasari. Dia anak yang pandai, hanya saja kadang masih malu-malu.
"Lah, aku gak mau ikut olimpiade Bu?"
"Kenapa?"
Kau hanya menggeleng, lalu diam. Aku menatapnya.
"Aku tidak bisa Bu." katamu
"Aih, jangan menyerah dulu kan belum dicoba. Lihat temanmu yang lain mereka mau mencoba. Bagaimana? Mus ikut ya?". Kau masih diam, menatapku lalu tersenyum.
"Iya wis, hehe..." Hehe..akupun ikut tertawa.




Duhai, jangan bersedih
karena saat ini dukamu menjadi dukaku
tersenyumlah ^_^
"Ibu, Endang nangis Bu?"
"Kenapa?"
"Tasnya rusak lagi, jatuh lalu  keinjek Diki, pengaitnya lepas."
Aku dekati Endang, dia menangis. Suaranya lirih, terisak.
Aku membelai kepalanya. "Tak apa Endang, tasnya masih bisa diperbaiki."
Tak ada jawaban, masih terisak. Setelah terhening, baru kau bicara.
"Nanti dimarahi ibu lagi Bu, soalnya itu baru beli."
"Tidak, gak akan dimarahi ko. Nanti pulangnya dianter sama Desi dan Mus ya?" kataku sambil melirik mereka. Desi dan Mus mengangguk. Lalu kupanggil Diki, dia menyesal. Nanti akan diganti pengaitnya.

Esok paginya...
Seorang ibu datang ke sekolah sambil membawa tas rusak. Ternyata ibunya Endang, kuhampiri.
"Endangnya gak mau sekolah Bu,  katanya tasnya rusak. Saya mau tanya siapa yang ngrusak."
"Oh, insyaAlloh nanti diganti pengaitnya Bu." lalu kami menemui Emaknya Diki yang kebetulan jualan di kantin sekolah. Masalahpun beres. Bagaimana dengan Endang?
"Anak-anak, ayo jemput Endang ke rumahnya agar dia mau masuk ya?." Anak-anak mengangguk lalu bergegas menuju rumah Endang. 
Sekecil apapun masalahnya, pasti selalu ada jalan keluar.
Endang, sitiophobia. Takut makan, terutama nasi. Suatu saat kau pasti bisa makan nasi, seperti yang lain.
Belajar yang tekun ya Nak? Karena aku tahu kau cerdas. Aku menyukai senyummu, pun mencintaimu dengan tanpa keraguan!

Ku lihat, langit di luar gelap
barangkali mendung tengah merindu pada hujan
tapi pekatnya awan tak meredupkan wajahmu
kau terlihat tenang, santai
tanganmu tak henti menyoretkan crayon pada kertas
melukiskan hidup penuh makna
aku suka coretan pensilmu
menghubungkan titik-titik menjadi garis
lalu mengubah, menjadi bentuk yang bermakna

Titi Ropiyanti, berjuanglah untuk hari besarmu
taklukkan dunia dengan imajimu
suatu saat kau kan bisa membangun lukisan hidupmu di surga

Dan saat crayon mulai memendek
tak sanggup lagi mewarnai
masih ada cintaku yang seperti kuku
yang takkan habis meskipun kau memotongnya
karena cintaku fillah
mengakar dalam dekap iman
ana uhibbukum fillah....
..to be continue..._^





Tidak ada komentar:

Posting Komentar