Selasa, 11 Maret 2014

Gara-gara Do It (Baca duit)

Teng..tong..teng..tong.
Gubrak!
Ternyata sudah jam 7 pagi gimana nih, kalau telat bisa bahaya! Jam pertama mid english lagi. Aku mempercepat gerakku. Segera ku sambar jilbab sekenanya, untung tadi sudah mandi, batinku. Segera ku bereskan tugas yang sedang kuselesaikan tadi. Karena sudah jam 7 lewat aku putuskan untuk naik angkot saja, pas mau keluar pintu kos baru teringat kalau aku belum bawa uang untuk bayar angkot nanti. Setelah mencari-cari dalam dompet yang sekarat akhirnya kutemukan segepok duit recehan, lumayan ada seribu rupe cukuplah buat naik angkot, tanpa pikir panjang kumasukkan duit recehan itu ke dalam saku kemejaku, kebetulan waktu itu aku pake kemeja bapak yang sudah kekecilan, lumayanlah masih bagus. Aku tak peduli meski duit recehan itu bergemericik di saku kemeja tanpa penutup itu, yang penting harus nyampai kampus secepatnya!.

Setelah berlari-lari dari kos menuju gang, akhirnya sampai juga di jalan raya. Detik demi detik, hatiku semakin resah, pikiranku pun kacau. Nih, angkot kapan datangnyaaaa, teriakku dalam hati. Kalo telat bisa berabe nih, sekarang otakku berteriak. Bayangan wajah dosen dan mid english seperti bintang berkejaran, pening untung gak sampe bikin sesak napas. Hugh! Setelah sekian lama menunggu akhirnya aku nyerah, maksudnya gak jadi naik angkot hehe..Akhirnya bukan hanya lengan baju yang kusingsingkan tapi juga rok Letter A ku. Bersedia...siap..ya! Tanpa menunggu peluit dibunyikan aku langsung ngacir lari, tak peduli meski jilbab mengembang diterpa angin, dan yang paling repot adalah, duit recehan di saku tadi berloncatan hendak keluar, akhirnya aku berlari dengan satu tangan menjinjing rok dan tangan yang lain memegangi saku agar duit itu tak melorot ke bawah.
Wush..wush..wush..dengan jurus kunyuk melempar buahnya Wiro Sableng (gak tau nih jurus pas kagak ya?)  akhirnya aku berhaslil lari mengejar angkot, namun untung tak dapat diraih Malang ibukota Jawa Timur (eh salah ding ^_^) angkot yang menjadi tumpuan harapan malah berhenti mendadak, akhirnya urung naik angkot deh. Lalu aku siap-siap berlari lagi, kali ini meminjam Ajian reka gunung punyanya Suda Wirat. Ciaattt!
Cling!
Akhirnya sampai di kampus juga saudara-saudara!
Hosh..hosh..hosh..dengan napas yang jumpalitan akhirnya sampai juga di depan pintu ruang kuliah. Kelas terlihat sunyi senyap, para penghuninya sedang terlelap dalam tulisan-tulisan bule yang tak hanya membuat dahi berkerut tetapi juga bisa membuat lidah melet kepedesen (lho apa hubungannya?..maklum aku kan tukang bakso. Lho tambah gak nyambung!) Dengan langkah yang diberanikan, ku hampiri sang lecturer.
"Sorry Sir, I'am come late!" (gak peduli bahasa inggrisku benar apa tidak yang penting artinya begitu lah ^_^).
Sang lecturer mengamatiku sejenak, sambil geleng-geleng kepala beliau menyilahkanku duduk. Lalu aku celingukan mencari soal mid. Seperti mengerti apa yang kucari, beliau menyerahkan lembar soal untuk kukerjakan. Namun soal itu ditariknya kembali.
"Mana tugas dari saya?"
Deg! aku baru ingat kalau tugas yang tadi belum selesai kukerjakan.
"Not yet Sir," jawabku sekenanya.
"Berarti kamu tidak bisa mengikiti mid ini, bukankah tugas itu sebagai syarat untuk mengikuti mid?"
Duh, gawat aku gak mau ketinggalan mid, bisa berabe nanti kan urusan mid masih banyak bukan english doang! Akhirnya dengan tampang memelas kusampaikan isi hatiku.
"Please Sir, give me a chance. I can do it, promise!" kataku dengan bahasa inggris ala kadarnya.
Akhirnya sang lecturer memberi kesempatan, yes teriakku dalam hati.
Karena tak diberi perpanjangan waktu, aku jadi gugup menyelesaikan soal tersebut. Bayangkan dalam waktu 60 menit harus mengerjakan soal essay yang setara dengan 100 nomerlah kurang lebih, pake bahasa bule pula. Saking gugupnya, tiba-tiba pulpenku terjatuh, dan...yang bikin keki adalah...duit receh yang tadi nyumpel di saku kemeja tiba-tiba berjumpalitan alhasil muncullah bunyi gaduh ala duit recehan disawer.
"What's happen?" kata sang lecturer kaget, tatapan matanya tepat mengenai retinaku (hehe). Aku gelagepan, sembari membetulkan letak kacamata aku menjawab semampunya.
"Duwit Sir..."
"Whuaattt?" tanya dosen galak.
Aku langsung merem, "Maksud saya Do it Sir, bukan duwit." Maksudku memang mau menjawab, "sedang mengerjakan soal mid, tapi karena basa buleku ala kadarnya jadinya keder, malah ngomongnya kedengaran duit deh, apalagi ada atraksi sawer receh segala lagi. Alhasil teman sekelaspun ikut ngakak. Tapi alhamdulillah sang lecturer memahami, jadinya beliau cuma geleng-geleng kepala aja. Nasip, teriakku dalam dada.

Berbekal doa dan ketawakkalan meski tanpa meminjam jurus saktinya Wiro Sableng atau tongkat sakti Harry Puter apalagi kantong ajaibnya Doraemonpun pun akhirnya soal-soal itu berhasil kugasak, hehe...Selesai duluan malah dibandingkan teman-teman yang lain.
Dengan penuh percaya diri akhirnya aku mengumpulkan jawaban mid semesternya.
"Ini pak, sekalian sama tugasnya."
Sang  lecturer malah bingung,"Lho, tadi katanya belum?"
"Emang tadi belum Sir, terus saya kebut dan akhirnya selesai bersamaan," jawabku cengar-cengir.
"Ok, Good Job!"
"Thanks Sir." Akhirnya akupun ngacir pergi dengan dada berdebar-debar karena gembira. Akibat berpikir keras, tiba-tiba tenggorokanku terasa kering, serasa gurun yang tak terjamah air hujan. Akhirnya ku rogoh saku kemejaku, aha! Masih ada uang recehan, seceng, lumayan buat beli es teh. Saat-saat seperti inilah kemudian sisi lain hatiku yang baik berkata, Maka nikmat tuhan yang manakah yang kamu dustakan?
Sekian dulu deh ceritanya, aku gak tahu isi ceritanya nyambung gak sama judulnya. tapi yang penting hatiku Ploooong!

Cerita ini kubuat sembari ngutak-atik naskah  pidato bahasa inggris buat lomba hari kamis nanti. Teringat kisah tahun 2006 silam, saat masih unyu-unyunya jadi mahasiswa ^_^! Semoga cerita ini cukup untuk menghibur hatiku yang sedang.....ah! (sedang apa ya? bingung mau ngomong apa,hehe..) ya sudahlah.
Thanks for your time!

Dalam kegalauan masih ada senyum,
Tersenyumlah dan jangan bosan ^_^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar