Selasa, 04 Maret 2014

Selalu Ada Cinta untuk Mereka...

Kami kanak-kanak
menuntut ilmu banyak-banyak
semangat keras tak lunak
patuh pada ibu bapak
ibulah menjaga malam siang petang dan pagi
bapak ibu berusaha
nafkahlah yang dicari...

Dengan semangat yang membara lagu itu mengalun dari bibir tebalmu, tanganmu mengepal, bergetar, mungkin grogi lantaran aku melihatmu dalam jarak yang dekat. Mulanya aku tak tahu kalau ada di sini. Maaf jika aku tak melihatmu kali pertama, aku benar-benar tidak tahu hingga akhirnya sampailah aku di sini, di depanmu menyaksikanmu sedang bernyanyi sebuah lagu yang dulu pernah ku dendangkan kala aku seusiamu. Mata tajammu tersipu saat aku berikan senyum untukmu.

Pagi itu, seperti biasa, aku berjalan menyusuri koridor sekolah, berjalan melewati beberapa ruang yang belum pernah kusinggahi. Kuedarkan pandangan ke seantero sekolah, hingga akhirnya mataku tertuju pada sebuah kepala yang menyembul dari balik pintu, ku perhatikan lalu kepala itu menghilang. Aku berpura-pura jalan namun mataku terus mengawasi, hingga akhirnya tatapan mataku bertemu denganmu,kau gugup namun aku buru-buru tersenyum padamu, lalu kepala itu menghilang lagi. Dalam hati aku berkata, sejak pertamakali aku masuk sekolah ini, aku belum pernah melihatnya. Siapa dia? anak kelas 6 yang memiliki bibir tebal dan bersorot mata tajam?

Dari balik jendela kelas, aku melihat seorang ibu duduk di beranda sekolah, di depannya bertengger sebuah sepeda mungil. Sesekali matanya melongok pada kelas di depannya, mungkin sedang menunggu seseorang pikirku.Ketika bel pulang berbunyi, ibu itu masih duduk menunggu, belum ada tanda-tanda orang yang ditunggunya keluar. Setelah membubarkan kelas aku berjalan menghampiri, ibu itu tersenyum sambil menganggukkan kepala, lalu ku balas dengan takzim."Aku menunggu putraku," katamu. Oh mungkin saja ibunya murid kelas 6, kebetulan mereka ada tambahan pelajaran. Baru kali ini aku melihat ada seorang ibu menunggui anaknya sekolah, padahal anaknya sudah kelas 6. Sungguh ibu yang baik hati, disaat tugas-tugas rumah tangga menanti, beliau masih sempat menunggui putranya.

Waktu pun berdetak, aku masih duduk di kantor menunggui jemputan yang tak kunjung datang. Kulihat ibu itu pun masih setia menunggu, hingga akhirnya tambahan pelajaran selesai, aku melihatmu membopong seorang anak laki-laki yang memiliki bibir tebal dan sorot mata yang tajam. Aih, aku baru tahu kalau pemilik bibir tebal itu adalah Gufron, penyandang kretinisme. Tubuhnya tidak berkembang sempurna, kerdil. Ibu itu menaikkan Gufron ke sepeda dengan sangat hati-hati. Ah, kau ibu istimewa tentu.


Tatapanku masih lekat pada anak di hadapanku ini, bibirnya belum berhenti menyanyikan lagu itu, matanya memerah lantaran semangatnya membara. Gufron, aku bangga padamu kecilnya tubuhmu tak membuatmu minder atau patah semangat. Alloh tentu menyayangimu, hingga Dia menjadikanmu anak yang cerdas. Aku percaya bahwa Alloh tak pernah menciptakan sesuatu dengan sia-sia. Alloh mencintaimu dengan cara yang lain. Dengan segala keterbatasanmu kau mampu mengalahkan mereka  yang secara fisik sempurna. Kau mampu bertahan dalam jejeran murid yang pandai, peringkat ke empat tentu bukan hal yang mudah untuk meraihnya jika tak dibarengi dengan kesabaran dan ketekunan. Semoga engkau bisa mewujudkan impianmu Nak. Meski aku tak sering mengajarmu, namun doaku ada untukmu. Karena aku pun mencintaimu...

Melihatmu, mengingatkanku pada sosok yang juga istimewa. Aku bertemu dengannya saat sedang kuliah kerja nyata di Batang. Tugasku hanya mengajari anak dan orang-orang yang buta aksara, meski itu telah beberapa tahun lamanya, namun senyum itu masih ku kenang.

"Hati-hati jika kau berjalan di depan rumah itu", seru seorang rekanku.
"Ada anak yang tak waras, dia sering melempari batu pada orang yang lewat di depannya, "katanya lagi. Aku hanya tersenyum mendengarnya. Tiba-tiba temanku berteriak,"lariiiii..." aku kaget, seorang anak laki-laki sedang melempari batu ke arah temanku. Lalu dia melihatku, spontan aku melambaikan tangan padanya,"Hai," seruku. Dia terdiam.Wajahnya lucu, bibirnya monyong sesekali ia mengerutkan dahinya.
"Ijinkan aku lewat ya?" kataku padanya, dia hanya diam, tak ada respon. Lalu akupun meneruskan perjalanan dengan santai. Kata anak-anak di desa itu, dia orang gila, tidak waras suka melempari orang dengan batu. Aku mendengar celoteh anak-anak binaanku sambil tersenyum. Mereka belum tahu, kalau sebenarnya dia tidak gila.

Keesokan harinya, aku berjalan melintas sawah, membawa harap bagi mereka yang masih buta akan angka, akan aksara. Bagi mereka aksara hanyalah deretan titik tanpa makna, bekerja  atau menjadi buruh tentu lebih mengasyikkan bagi mereka. Dan, itu tantangan bagiku, bagaimana membuat mereka yang telah udzur mau belajar mengeja, tak ingin menyia-nyiakan kesempatan aku juga menjejali mereka dengan huruf-huruf surgawi, yang terkandung pahala tiap kali melafadzkannya. Menjadikan sholawat, untuk pengobat hati yang bosan, aih mereka bersemangat, menirukan huruf-huruf surgawi sambil sesekali bersyair. 
Sore itu sendiri, melintasi hamparan padi yang belum kuning. Hembusan angin membuatku serasa melayang, membubung tinggi mengangkasa. Tiba-tiba aku merasakan sebuah lemparan batu di pinggangku, aku menoleh. Ada sebuah sosok yang ku kenal, dia menutup wajahnya dengan tangan.Malu.
"Kau, mau ikut denganku?"
Kau hanya diam, lalu menutup wajahmu lagi. Aku lanjutkan berjalan, lalu kau memanggilku.
"Ah..ah..ah..ah," hanya kata itu yang terucap. Tanganmu melambai kepadaku.
"Baiklah, ayo kita bersenang-senang." kataku sambil mengajaknya tertawa. Sebenarnya dia tidak nakal, kalian hanya perlu tahu bagaimana memperlakukannya.




"Kenapa kau bermain dengan anak yang gila?" tanya rekanku.
"Dia tidak gila," jawabku.
"Kita hanya perlu tahu bagaimana cara memperlakukannya."

 Alloh mencintai anak itu dengan cara yang lain. Dia istimewa, berbeda dengan yang lainnya. Ada kromosom dalam tubuhnya yang mengalami kelainan, trisomi, jumlah kromosom 21 nya mengalami  penambahan. Pada anak yang normal jumlah kromosomnya 46, tapi dia memiliki 47 kromosom. Sindrom Down, mereka memiliki ciri yang khas di wajahnya. Saat aku melihatmu aku mengerti, kau kesepian.

"Hagh..hagh..hagh.."Mulutmu menganga, tertawa, memperlihatkan gigimu yang tak rata. Matamu seperti hilang tertutup pipimu yang gembul. Mulutmu tak henti merucap, menepuk tangan berulang. Entah lagu apa yang sedang kau nyanyikan, apakah kau sedang mengikuti aku dan anak-anak bernyanyi di sekolah?
Pagi tadi, kau datang menyelinap. Mengintipku, lalu bersembunyi di balik pintu. Aku mengajakmu masuk kelas. Anak-anak tertawa melihatnya, aku menatapnya lekat.
"Biarkan dia belajar bersama kita," bisikku pada anak-anak. Mereka mengangguk. Lalu menyaksikan bagaimana dia bernyanyi, tertawa, sambil melirik malu ke arahku.
Aku berharap kau akan selalu tertawa seperti ini, maafkan aku yang tak selalu bisa membersamaimu. Ini hari terakhir aku di sini, esok aku harus pulang meneruskan jadwal yang belum usai.
Jika kau memahami apa yang aku ucapkan, dengarkanlah: Aku mencintaimu, jangan bersedih, karena Alloh selalu ada untukmu. Dia tentu sangat menyayangimu. Siang itu aku mengantarmu pulang, lalu melambai tangan. Lama aku menatapmu, kau hanya tersipu sambil  menyunggingkan gigimu yang tak rata.
Sampai jumpa kawan!



Tersenyumlah. meski dalam sedihmu
tersenyumlah, karena ada hak orang lain di dalamnya
tersenyumlah, selagi kau tak mampu berkata-kata
tersenyumlah, karena ia obat hati yang sekarat..
Jika kau mencintainya, maka tersenyumlah dan jangan bosan ^_^


Teruntuk kalian, anak-anak yang istimewa tersenyumlah..karena akan selalu ada orang-orang yang mencintaimu...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar