Ingatanku pun melayang ketika masa SMA, waktu itu berjilbab memang boleh namun masih kebanyakan aturan. Pake jilbab boleh, asal bet Osisnya kelihatanlah, namanya kelihatanlah, identitasnya kelihatanlah. Coba bayangkan sependek apa jilbabnya jika nama, identitas sekolah, dan bet Osis di saku harus kelihatan? yang ada jilbab jadi kaya tiang gantungan. Tapi aku yang waktu itu mantap untuk berhijab memilih untuk acuh tak acuh terhadap peraturan itu, meski beberapa kali ditegur sama wakasek tapi aku tak peduli. Bagiku berhijab sesuai syariat adalah harga mati!. Perlahan aturan itu pun mereda namun dampaknya cukup signifikan bagi siswa baru, mereka jadi takut untuk berjilbab sesuai syariat. Satu alasannya: takut sama peraturan! Hanya beberapa dari mereka yang bertahan. Semoga kami diberikan keistiqomahan.
Well, baiklah itu hanya adegan pembuka kisah ini. Sebenarnya aku mau bercerita tentang sebuah jilbab yang terkadang diidentikkan dengan teroris apalagi wanita yang berjilbab lebar dan hitam. Ah, aku tidak seseram itu kok, hehe..^_^..Siapa coba yang bilang aku serem?
Sebenarnya, tak ada yang salah dengan jilbab yang aku kenakan. Tetapi hanya karena masalah warna, interpretasi orang jadi bermacam-macam. Akupun lupa, sejak kapan aku lebih menyukai memakai jilbab hitam dibandingkan warna yang lainnya, yang jelas satu alasannya: Aku lebih nyaman dengan jilbab berwarna gelap apalagi hitam. Ini sama sekali tak ada hubungannya dengan ikut aliran tertentu pun tak ada aturan dalam Al quran harus memakai jilbab warna hitam, tak ada! Ini murni faktor kenyamanan disamping untuk mengurangi ketertarikan lawan jenis, tapi pernah juga sih gegara aku sering memakai warna hitam jadi ada yang ingin melamarku. Hehe..aneh itu orang, masa jawabannya begitu. Tapi pastinya dia punya alasan tertentu mengapa dia suka wanita berjilbab hitam ^_^. Disamping memakai jilbab hitam, aku juga lebih suka memakai pakaian dengan warna senada dengan jilbab, pokokmen warna gelap. Hingga sampai akhirnya ada seorang ustadzah yang berkomentar, di era 2000an masih ada aja wanita yang memakai pakaian seperti ini, ketahuilah pakaian yang kita kenakan juga berpengaruh terhadap hubungan sosial kita dengan masyarakat. Ingatlah bahwa pakaian yang kita pakai itu bukan hanya untuk diri sendiri, namun juga untuk orang lain. dan perkataan beliau memang terbukti.
Lalu apakah aku langsung berubah? Ternyata belum, aku masih mengenakan jenis pakaian yang senada. Tapi sering minta pendapat pada orang lain, terlebih adik kelas yang baru mengenalku.
"Apa menurut kalian aku terlihat serem dengan pakaian seperti ini?" Mereka tersenyum, lalu berkata, " Tidak mba, tidak serem kok kan mba selalu tersenyum." Yes, lega batink, tetapi kemudian ada yang menimpali " Awalnya memang serem mba, tapi setelah kenal dan deket gak lagi ko, mbak orangnya asyik."
Hemm..kalau itu berarti emang harus ada yang dibereskan, karena orang akan tetap menilai dari kesan pertama. Baiklah sebelum aku bercerita tentang metamorfosis warna jilbab, aku ingin berkisah tentang "Aku dan jilbab hitamku, melawan dugaan terorisme" (hii..serem amet judulnya ^_^..biasa aja kok isinya)
Berikut kisahku bersama Hijab:
- Gegara sering pake jilbab hitam aku disangka ikut aliran tertentu, terutama aliran-aliran sesat bahkan dibilangin sama pak polisi: apa nanti gak takut dituduh teroris? apa nanti gak takut susah nyari kerja?
- Gegara sering pake gamis hitam jadi sering dibilangin salah kostum sama ibu, masa mau kondangan kaya mau layat? pake pakaian item dari ujung kepala sampai kaki?
- Gegara pake gamis item, maksud hati untuk meredam perhatian lawan jenis malah mau dilamar!
- Gegara pake gamis item, aku dibilangain eksklusif sama banyak orang, contohnya saja pas lagi naik bus, tiba-tiba ada bapak yang duduk di sampingku dan tanpa sengaja tangannya menyenggolku, lalu beliau minta maafnya gak lumrah kayane ngrasa salaaah banget, padahal biasa aja wong namanya juga bus umum.
"Aduh, maaf nggih mbak gak sengaja," kata bapak itu menyesal.
"Oh, ndak apa-apa pak," jawabku. Mendengar jawabanku bapak itu malah kaget.
"Tumben dijawab," kata bapak itu lagi. Gantian aku yang bengong.
"Memangnya kenapa Pak?" tanyaku lagi.
"Biasanya orang kaya mba ini sombong, acuh tak acuh, diajak ngobrol diem aja..bla..bla..bla..."
Deg, segitunyakah? Alhasil sepanjang jalan jadi ngobrol ngalor ngidul sama bapak tadi, terbuktikan kalau aku gak serem? hehe...
- Dan yang parah aku disangka teroris! Ceritanya waktu itu memang lagi marak-maraknya kasus terorisme, kebetulan pakaianku waktu itu mirip istri-sitri orang yang disangka teroris. Pakai gamis hitam dari atas sampai ke bawah.
Sekitar tahun 2010an aku menghadiri sebuah acara kampus di Ambon, kebetulan aku berangkat dan pulangnya ke Bandara Internasional Juanda- Surabaya, jadi wajarlah kalau banyak bule. Waktu itu aku sedang di kamar mandi, setelah selesai aku bercermin di kaca bagian pintu masuk, disampingku ada bule berwajah cina sedang bercermin juga. Karena merasa ada orang di sampingnya bule itupun mendongakkan kepalanya. Coba tebak apa yang terjadi? Bule itu kaget setengah mati, lalu mundur beberapa langkah seolah memekikkan sesuatu. Sadar telah membuat orang ketakutan, aku langsung tersenyum sambil berucap " Don't be afraid, I'am not a terorist!" Bule itu langsung ngacir. Keluar dari kamar mandi aku tertawa ngakak! Astagfirulloh, dosa gak nih udah bikin orang ketakutan? ^_^.
Itu beberapa kisahku dengan black hijab, lalu bagaimana akhirnya hingga aku bermetamorfosis?
Ceritanya waktu itu aku jadi ketua Jaringan Muslimah Daerah Semarang, karena aku sering 'berkampanye' ke kampus-kampus apalagi kampus di seluruh wilayah Semarang itu banyak ragamnya aku jadi berpikir ulang untuk selalu memakai gaun serba hitam. Apalagi jargonnya Jarmus adalah Colouring the World, jadi aku diprotes sama ketua yang dulu agar tidak selalu memakai pakaian serba hitam. Akhirnya demi memudahkan gerak langkah aku merubah penampilan, tak drastis memang namun perlahan-lahan, agak terang. Hingga akhirnya aku dihadiahi jilbab warna kuning oleh Annisa FK UNISSULA, itu untuk pertamakalinya aku memakai jilbab berwarna kuning. Tak lama kemudian aku diminta ngisi kajian muslimah tentang kecantikan, what? itu pertamakalinya aku ngisi materi yang bersifat kewanitaan biasane kan training motivasi ato kepribadian muslimah, tepatnya di FK UNDIP bersama dengan dua dosen Undip, dan untuk pertamakalinya aku memakai gamis merah! (gak kebayang sebelumnya, aku yang tomboy dan gelap sekarang jadi 'sedikit berwarna'..menyesuikan tema, masa materinya tentang kecantikan pake gaunnya hitam kan gak matching, meski hitam itupun sebenarnya cantik.
Karena tuntutan pekerjaan itulah perlahan aku mulai menambah koleksi warna kerudung dan bajuku dengan warna yang lebih cerah, karena banyaknya masukan dari orang sekitar. Toh, yang pentingkan bukan tentang warna tapi kesesuaian dengan syariat.
Colouring the World, memulai petualangan baru dengan Jarmus agar tak terkesan eksklusif. Sejak saat itulah aku terkesan sedikit feminin, maklum ibunya Annisa komentar beberapa adik kelas.Meskipun aku tetap lebih menyukai warna hitam. Tak ada maksud untuk menyudutkan wanita yang berjubah hitam, semua sah-sah saja selagi niatannya untuk beribadah dan menjaga diri, asalkan tidak mempersulit ruang gerak kita: mudahkan, jangan dipersulit, pertimbangkan kemaslahatannya. Tak ada yang salah dengan hijab kita apapun warnanya, asalkan prinsipnya terjaga its'ok. Dan akhirnya selamat berjilbab wanita shalihah!
Tersenyumlah dan jangan bosan, karena dengan senyum hidupmu lebih berwarna! ^_^
Berikan keistiqomahan pada kami Robb, hamba-Mu yang berusaha menjadi shalihah!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar