cintaku kepada kalian laksana matahari yang mencintai buminya
tak bersyarat
hanya kerana titah tuhan
Aku mencintai kalian dengan tanpa keraguan di dalamnya...
cintaku kepada kalian seperti tinta yang mencintai kertas putih
terurai catatan penuh makna
Aku mencintai kalian dengan tanpa keraguan di dalamnya...
seperti buku yang mencintai ilmu
tak lekang meski nanti telah koyak
Aku mencintai kalian dengan tanpa keraguan di dalamnya...
jika nanti aku telah lelah
bangkitkan aku dengan senyum kalian
Aku mencintai kalian dengan tanpa keraguan di dalamnya....
Ayu Nandriyanti...
Sekarang aku tahu, kenapa kau memiliki senyum sekokoh baja. Dalam usiamu yang kekanak kau tegar. Duhai, tentu tuhan telah menciptakan hatimu dengan tanah yang suci nan lembut. Beberapa minggu lalu, ya beberapa minggu lalu ayahmu telah berpulang dan kau? masih tetap tersenyum diantara celoteh teman kanakmu. Ibumu, ia wanita perkasa tentu. Menemani sekolahmu dengan sekeranjang penganan penyambung hidup, mengais rejeki dari recehan kawanmu. Aih, senyummu benar-benar menampakkan ketegaran, tak sedikitpun tergurat sedih dan kecewa karena kehilangan separuh jiwamu namun aku yakin ia (ayahmu) selalu ada di sampingmu: menyanjungkan doa pada tuhan agar putrinya menjadi generasi robbani. Semangatlah Nak, aku pun mencintaimu dengan tanpa keraguan!
Tetaplah percaya bahwa kau mampu
jangan menyerah
"Bu, capeklah gak mau nulis" gerutumu saat memulai pelajaran. Aku tersenyum, aku mengerti. Ku sentuh pelan hatinya. Diki Caca anak bungsu, dia manja dan dimanja. Tapi perlahan ia pun bangkit. "Aku kerjakan sebisanya ya Bu?". Aku tersenyum, lagi. Ku lihat ia bersemangat dan tersipu saat ku perhatikan tingkahnya. "Tetap ajari aku ya Bu?". Pasti Nak, karena aku mencintaimu.
Aku memang marah
tapi sebenarnya aku tak sedang marah
hanya menguji...seberapa pekanya kau
hatiku takkan sanggup menanamkan paku pada tunas batang yang bertumbuh
Kasidin...jadilah pemimpin yang mengayomi. Cintai teman-temanmu karena kau takkan bisa memimpin mereka tanpa kau mencintainya.
Wajah tanpa ekspresi
tangannya sesekali mencorat-coret kertas
ku lihat apa yang kau tulis
oh, rupanya sebuah abjad berjejer
tanpa makna
Duhai, apa yang terjadi denganmu Mae?
adakah abjad-abjad itu tak mau berteman denganmu?
ku tarik lenganmu, menuju papan berukir ilmu
bacalah nak!
kau menggeleng
bacalah nak!
kau tetap menggeleng
kalau begitu tuliskan saja!
lalu kau tulis
tetap saja, jejeran abjad tanpa makna
ku tatap matanya
ada sebersit sesal dan sedih di wajahnya
tersenyumlah Mae, ada bu guru di belakang dan di sampingmu
perlahan kau eja
dengan tertatih: I-B-U G-U-R-U C-I-N-T-A M-A-E
Iya aku mencintaimu dengan tanpa keraguan
aku yakin kau bisa
seperti air yang membuat batu menjadi pecah!
to be continue...^_^




