Kamis, 30 Januari 2014

LASKAR MELATI II: Aku Mencintaimu dengan tanpa Keraguan

Aku mencintai kalian dengan tanpa keraguan di dalamnya...
cintaku kepada kalian laksana matahari yang mencintai buminya
tak bersyarat
hanya kerana titah tuhan

Aku mencintai kalian dengan tanpa keraguan di dalamnya...
cintaku kepada kalian seperti tinta yang mencintai kertas putih
terurai catatan penuh makna

Aku mencintai kalian dengan tanpa keraguan di dalamnya...
seperti buku yang mencintai ilmu
tak lekang meski nanti telah koyak

Aku mencintai kalian dengan tanpa keraguan di dalamnya...
jika nanti aku telah lelah
bangkitkan aku dengan senyum kalian

Aku mencintai kalian dengan tanpa keraguan di dalamnya....


Ayu Nandriyanti...
Sekarang aku tahu, kenapa kau memiliki senyum sekokoh baja. Dalam usiamu yang kekanak kau tegar. Duhai, tentu tuhan telah menciptakan hatimu dengan tanah yang suci nan lembut. Beberapa minggu lalu, ya beberapa minggu lalu ayahmu telah berpulang dan kau? masih tetap tersenyum diantara celoteh teman kanakmu. Ibumu, ia wanita perkasa tentu. Menemani sekolahmu dengan sekeranjang penganan penyambung hidup, mengais rejeki dari recehan kawanmu. Aih, senyummu benar-benar menampakkan ketegaran, tak sedikitpun tergurat sedih dan kecewa karena  kehilangan separuh jiwamu namun aku yakin ia (ayahmu) selalu ada di sampingmu: menyanjungkan doa pada tuhan agar putrinya menjadi generasi robbani. Semangatlah Nak, aku pun mencintaimu dengan tanpa keraguan!


Aku mencintaimu meski kau belum mengerti cinta itu...
Tetaplah percaya bahwa kau mampu
jangan menyerah
"Bu, capeklah gak mau nulis" gerutumu saat memulai pelajaran. Aku tersenyum, aku mengerti. Ku sentuh pelan hatinya. Diki Caca anak bungsu, dia manja dan dimanja. Tapi perlahan ia pun bangkit. "Aku kerjakan sebisanya ya Bu?". Aku tersenyum, lagi. Ku lihat ia bersemangat dan tersipu saat ku perhatikan tingkahnya. "Tetap ajari aku ya Bu?". Pasti Nak, karena aku mencintaimu.

Aku memang marah
tapi sebenarnya aku tak sedang marah
hanya menguji...seberapa pekanya kau
hatiku takkan sanggup menanamkan paku pada tunas batang yang bertumbuh
Kasidin...jadilah pemimpin yang mengayomi. Cintai teman-temanmu karena kau takkan bisa memimpin mereka tanpa kau mencintainya.

Wajah tanpa ekspresi
tangannya sesekali mencorat-coret kertas
ku lihat apa yang kau tulis
oh, rupanya sebuah abjad berjejer
tanpa makna
Duhai, apa yang terjadi denganmu Mae?
adakah abjad-abjad itu tak mau berteman denganmu?
ku tarik lenganmu, menuju papan berukir ilmu
bacalah nak!
kau menggeleng
bacalah nak!
kau tetap menggeleng
kalau begitu tuliskan saja!
lalu kau tulis
tetap saja, jejeran abjad tanpa makna
ku tatap matanya
ada sebersit sesal dan sedih di wajahnya
tersenyumlah Mae, ada bu guru di belakang dan di sampingmu
perlahan kau eja
dengan tertatih: I-B-U G-U-R-U C-I-N-T-A M-A-E
Iya aku mencintaimu dengan tanpa keraguan
aku yakin kau bisa
seperti air yang membuat batu menjadi pecah!

to be continue...^_^

Rabu, 29 Januari 2014

Puisi Tubuh




Mata


Mata itu jendela hati, katanya
Dari mata kita dapat melihat isi hatinya
Lalu bagaimana dengan orang buta,
Apakah kita dapat melihat isi hatinya?



Lidah



Akan kuceritakan kepadamu tentang seseorang yang memakan bangkai manusia
Kau tahu siapa?
Dialah yang tak pernah menjaga lidah
Menyebar gosip murahan,
tanpa tahu musababnya
Jika kau tak ingin memakan bangkai,
Jangan asah lidahmu dengan gosip murahan
Berbicaralah yang baik, atau diamlah!


Syair hati



Meski matamu sudah terpejam
Kuingin tetap menyapa hatimu
Hadirkan aku dalam mimpimu
Kerinduan yang mendalam
Membuatku tak henti
Memahatkan syair di dinding hatimu
Sampai kau membuka mata
Dan kau dapati aku di hadapanmu


  Wajah

Wajah yang telah berpuluh tahun ku kenal
tetap asing dan rahasia! 


Jumat, 24 Januari 2014

Layu Sebelum Merekah



Kenapa begitu cepat Na?
Kukira  kau akan lama di sini
Menunggui derasnya arus sungai Pabelan
            Kenapa begitu cepat Na?
            Bukankah biji itu belum kembang?
            Kenapa kau tinggal?
Kenapa begitu cepat Na?
Aku masih belum puas
Menggandeng tanganmu di pagi hari,
mereguk hangatnya mentari
            Kenapa begitu cepat Na?
            Jalanan pagi akan sepi
            tanpa langkah kita berdua

Kenapa begitu cepat Na?
Kukira kau akan bertahan,
Bertahan di sini
Menanti derasnya arus sungai Pabelan
Melihat indahnya kembang yang merekah,
Dan menyusuri jalan setapak yang merindukan jejak kita
Ternyata kau pergi begitu cepat, kenapa Na?
 Magelang, 2012

Ah, tahukah kau Na..bahwa akupun telah meninggalkannya. Perlahan jejakku pun kan hilang!

Minggu, 19 Januari 2014

Lupa Mata Kuliah



Yeah, akhirnya masuk kuliah juga! Jadi penasaran, belajar di bangku kuliah itu kaya apa sih? Katanya lebih santai dan demokratis, masa iya. Kita lihat saja nanti.
            Senang rasanya menikmati hari pertama kuliah, meskipun tidak ada teman yang dikenal. Begitu dapat tempat duduk, segera ku pamerkan gigi gisulku pada teman-teman sekelas berharap ada yang tersihir dengan senyum manisku lalu menghampiriku dan mengajak berkenalan, cihuy!. Nah, akhirnya kenalan juga deh sama teman-teman kelas, karena dasarnya aku subel alias suka bergaul jadi gampang aja nyari teman.
            Mata kuliah pertama adalah Pengantar Ilmu Pendidikan (PIP), ternyata sistem perkuliahan kebanyakan dengan metode diskusi kelompok. Kelompokku akhirnya kebagian materi tentang Pentingnya Pendidikan, karena dianggap lebih smart akhirnya aku ditunjuk jadi pemimpin diskusi. Karena sudah terbiasa berorganisasi sejak SD aku tak mengalami kesulitan untuk berdiskusi dan mengungkapkan gagasan, sampai-sampai semua wajah di depanku ternganga dan memberi applause atas jawaban smart yang keluar dari lisanku.

            Akhirnya adegan yang paling mencengangkan di babak pertama kuliah inipun terjadi. Saking semangat dan menggebu-gebunya menanggapi pertanyaan, aku sampai lupa kalau saat itu sedang kuliah  PIP bukan kuliah Pendidikan Agama Islam apalagi lagi ngisi pengajian. Dengan pedenya aku melancarkan dalil-dalil Al Quran tentang pentingnya menuntut ilmu dan menggunakan istilah kearaban yang mungkin asing di telinga teman-temanku. Aku baru nyadar pas lihat dahi teman-teman di depanku pada berkerut, dan tatapan dosen yang langsung mengenai wajahku. Setelah sadar aku cuma nyengir sambil menganggukkan kepala ke dosen (maksudnya minta maaf).
            “ Maaf teman-teman kebiasaan ngisi pengajian jadi dalilnya pada keluar” ucapku sambil nyengir kebo (emang kebo bisa nyengir?). Melihat tingkahku dosen cuma tersenyum dan berkomentar.
            “ Perkuliahan ini sudah kaya pengajian saja ya?” Mendengar komentar dosen, aku hanya garuk-garuk kepala yang kebetulan lagi gatel karena seminggu lupa keramas. Hehehe..maklum seminggu kemarin sibuk OKKA dan pulangnya sore terus jadi gak sempet keramas deh!.
            Akhirnya diskusi pun selesai, lega rasanya. Meski ada insiden kecil, gak papalah yang penting heppi. So, nikmati saja hari-hari kuliahmu apapun yang terjadi. Jangan lupa untuk selalu mempersiapkan bahan perkuliahan karena dosen suka main tembak-tembakan. Maksudnya suka memberikan pertanyaan dadakan, biar gak malu di kelas makanya belajar! Oke?