Jumat, 17 Januari 2014

Kiat Mendidik



Menjaga Mutiara


            Anak seperti mutiara yang harus kita jaga dengan baik agar tak retak dan   tak pudar kilaunya. Untuk menjaga keindahan mutiara tentu saja dibutuhkan kerja keras dan kesabaran yang luar biasa. Seperti proses pembuatan mutiara itu sendiri, tentu saja tak semudah membalik telapak tangan.

Meskipun saya belum menjadi orang tua tapi setidaknya saya pernah mengajar di suatu sekolah ketika tugas latihan mengajar, di situ saya belajar tentang sebuah kesabaran dan keyakinan untuk bisa membuka hati anak-anak agar mau belajar dengan baik dan nyaman dengan guru.

            Keberadaan saya di sekolah itu sebagai pendatang baru memang menuai beberapa kesan, ada yang menerima, ada yang acuh bahkan ada yang cuek dan terlihat benci sama saya. Ada seorang siswi yang ketika saya ajar, dia selalu menghindar. Entahlah, saya juga belum tahu apa masalahnya. Ketika saya mengajar siswa yang lain dia terus melihatku dengan pandangan yang agak sinis, ketika kegiatan ekstrakurikuler dia juga menghindar dari saya.

            Saya mulai berpikir kenapa dia begitu benci sama saya? Apa karena saya lebih dekat dengan siswa laki-laki dibanding dengan siswa perempuan? Suatu ketika saya menatap anak itu dan membatin,  “ Suatu saat akan ku taklukkan hatimu nak”.

            Usaha demi usaha saya lakukan untuk bisa membuka hatinya, ketika pelajaran saya dekati mejanya dan menanyakan apa kesulitannya. Awalnya dia enggan tapi melihat kesungguhan saya akhirnya dia mau dibantu, ketika istirahat saya mencoba berbaur dengannya dan menjadi sahabat baginya dan tak lupa selalu saya doakan anak itu.



            Setelah tiga bulan mengajar di sekolah latihan, tibalah saatnya saya harus kembali ke kampus. Usai perpisahan mahasiswa yang latihan mengajar dengan pihak sekolah latihan, siswa itu menemui saya sambil bercucuran air mata dan mengatakan “ jangan pergi bu, jangan tinggalkan kami”, dia menjadi anak yang paling sedih ketika saya tinggalkan. Selama ini dia tak pernah mendapat perhatian dari orang di sekitarnya, terutama orang tuanya. Dia menjalani rutinitas sekolah untuk menghindari amarah orang tuanya. Akhirnya dia berangkat ke sekolah tanpa semangat dan kebahagiaan.

Saya tak sanggup menahan beratnya mata dan akhirnya saya pun mencucurkan air mata. Ternyata Allah telah mengabulkan doa saya, agar anak ini mau membuka hatinya untuk saya.

Saya banyak belajar dari mereka, murid-murid yang malang yang tak hanya ingin dicekoki dengan teori tetapi juga butuh siraman rohani dan sentuhan kasih dari sang guru. Mereka juga makhluk yang setiap saat ingin diperhatikan dan butuh tempat untuk sekadar curhat mengenai kesulitan-kesulitan mereka.

            Memang dibutuhkan kesabaran dan kasih sayang dalam mendidik anak, tak hanya menjadi guru tapi cobalah untuk menjadi sahabat bagi anak kita, dan yang terpenting hadirkan dia dalam doa-doa kita. Mudah-mudahan dengan ikhtiar maksimal dan doa yang tiada putus mampu menjadikan mutiara itu tetap berkilau bahkan lebih cemerlang dari sebelumnya. Semoga!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar