Menjaga
Mutiara
Anak
seperti mutiara yang harus kita jaga dengan baik agar tak retak dan tak pudar kilaunya. Untuk menjaga keindahan
mutiara tentu saja dibutuhkan kerja keras dan kesabaran yang luar biasa. Seperti
proses pembuatan mutiara itu sendiri, tentu saja tak semudah membalik telapak
tangan.
Meskipun saya belum
menjadi orang tua tapi setidaknya saya pernah mengajar di suatu sekolah ketika tugas
latihan mengajar, di situ saya belajar tentang sebuah kesabaran dan keyakinan
untuk bisa membuka hati anak-anak agar mau belajar dengan baik dan nyaman
dengan guru.
Keberadaan
saya di sekolah itu sebagai pendatang baru memang menuai beberapa kesan, ada
yang menerima, ada yang acuh bahkan ada yang cuek dan terlihat benci sama saya.
Ada seorang siswi yang ketika saya ajar, dia selalu menghindar. Entahlah, saya
juga belum tahu apa masalahnya. Ketika saya mengajar siswa yang lain dia terus
melihatku dengan pandangan yang agak sinis, ketika kegiatan ekstrakurikuler dia
juga menghindar dari saya.
Saya
mulai berpikir kenapa dia begitu benci sama saya? Apa karena saya lebih dekat
dengan siswa laki-laki dibanding dengan siswa perempuan? Suatu ketika saya
menatap anak itu dan membatin, “ Suatu
saat akan ku taklukkan hatimu nak”.
Usaha
demi usaha saya lakukan untuk bisa membuka hatinya, ketika pelajaran saya
dekati mejanya dan menanyakan apa kesulitannya. Awalnya dia enggan tapi melihat
kesungguhan saya akhirnya dia mau dibantu, ketika istirahat saya mencoba
berbaur dengannya dan menjadi sahabat baginya dan tak lupa selalu saya doakan anak
itu.
Setelah
tiga bulan mengajar di sekolah latihan, tibalah saatnya saya harus kembali ke
kampus. Usai perpisahan mahasiswa yang latihan mengajar dengan pihak sekolah
latihan, siswa itu menemui saya sambil bercucuran air mata dan mengatakan “
jangan pergi bu, jangan tinggalkan kami”, dia menjadi anak yang paling sedih
ketika saya tinggalkan. Selama ini dia tak pernah mendapat perhatian dari orang
di sekitarnya, terutama orang tuanya. Dia menjalani rutinitas sekolah untuk
menghindari amarah orang tuanya. Akhirnya dia berangkat ke sekolah tanpa
semangat dan kebahagiaan.
Saya tak sanggup menahan beratnya mata
dan akhirnya saya pun mencucurkan air mata. Ternyata Allah telah mengabulkan
doa saya, agar anak ini mau membuka hatinya untuk saya.
Saya banyak belajar
dari mereka, murid-murid yang malang yang tak hanya ingin dicekoki dengan teori
tetapi juga butuh siraman rohani dan sentuhan kasih dari sang guru. Mereka juga
makhluk yang setiap saat ingin diperhatikan dan butuh tempat untuk sekadar
curhat mengenai kesulitan-kesulitan mereka.
Memang
dibutuhkan kesabaran dan kasih sayang dalam mendidik anak, tak hanya menjadi
guru tapi cobalah untuk menjadi sahabat bagi anak kita, dan yang terpenting
hadirkan dia dalam doa-doa kita. Mudah-mudahan dengan ikhtiar maksimal dan doa
yang tiada putus mampu menjadikan mutiara itu tetap berkilau bahkan lebih
cemerlang dari sebelumnya. Semoga!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar