Bahagia itu Murah
Apakah
kau sepakat kalau bahagia itu murah? Bahagia
memang tak cukup hanya dengan tersenyum. Tapi…
Hari
Jumat kemarin, untuk pertamakalinya aku ikut longmarch. Tak jauh memang, hanya sekitar 2 Km dari tempatku
mengajar. Semua warga sekolah antusias, bahkan sepanjang jalan diiringi dengan
lantunan sholawat jadi berasa seperti Maulidan.
Longmarch berjalan lancar tak ada
halangan yang berarti. Sesekali anak-anak berhenti karena lelah, lalu mampir ke
warung membeli es untuk melepas dahaga. Di sampingku ada seorang murid imut,
berjalan dengan gontai, tak ada teman. Sesekali ia memandangku, lalu kulempar
senyum padanya.
“Kau
tidak membeli es?” kataku, dia hanya menggeleng lemah.
“Kenapa?”
“Tidak
bawa uang saku Bu?” katanya. Aku tersenyum, lalu mengajaknya jalan bersamaku.
Setibanya
di sekolah aku mengambil uang lalu mengajaknya ke kantin. Kantin sangat ramai,
maklum habis olahraga jadi mungkin anak-anak jadi haus dan lapar.
“Eh
ada bu guru, mau beli apa Bu?” tanya ibu kantin.
“Es
teh satu Bu” jawabku. Lalu es teh itu aku berikan pada anak tadi. Dia terlihat
senang. Lalu ku tawari untuk membeli makanan lain tapi dia menggeleng,
sepertinya sudah cukup senang dengan sekantung es teh, apalagi bu guru imut
yang membelikannya. Hehe…
Setelah
selesai lalu ku bayar, harga sekantung es teh cuma 500 perak, murah sekali. Hanya
dengan uang 500 perak kita bisa membahagiakan orang lain. Jadi bahagia itu
murahkan?
… bahagia itu adalah saat kita mampu memberikan kebahagian pada orang
lain, betapapun sederhananya.
Tak
berhenti sampai di sini, ada bahagia lain yang murah. Masih sama, bahagia 500
perak. Kali ini tentang seorang mahasiswa. Saat ujian di kampus sedang berlangsung,
mahasiswa ini sibuk mencari dosen di ruang kuliah. Ujiannya memang take home, lalu dia berniat untuk
mengumpulkan pada sang dosen. Karena bukan dosen jurusannya, jadi mahasiswa itu
bingung mencari sang dosen, tepatnya dosen Fisika padahal dia bukan dari
jurusan Fisika.
Setelah
mencari akhirnya dia ketemu dengan seorang dosen, tapi bukan dosen yang
dicarinya. Mahasiswa itu bertanya, bukannya dijawab tapi malah disuruh membeli
es di kantin. Setelah memberikan es pada dosen itu, sang mahasiswa menyerahkan
uang kembaliannya. Namun sang dosen menolak.
“Kembaliannya
buat kamu saja.”
Tuing, sepertinya mahasiswa itu kaget,
lalu tersenyum sipu. Sang dosen cuma mesem, mungkin tersenyum dalam hati. Ngledek
nih, batin mahasiswa itu. Lalu dia pun pergi setelah diberitahu keberadaan
dosen yang dicarinya oleh dosen tadi.
Mahasiswa
itu masih menggenggam uang kembalian tadi, 500 perak! Dia geleng-geleng, lalu
tersenyum. Lumayanlah! ^_^
·
The Way of Happines:
1.
Cara Berpikir
2.
Cara meyakini suatu hal
3.
Pilihan emosi
4.
Semangat spiritual
Yuk bahagiakan
diri kita dengan cara yang murah; Tersenyumlah dan jangan bosan ^_^

Tidak ada komentar:
Posting Komentar