Kamis, 16 Januari 2014

Bahagia 500 Perak



Bahagia itu Murah
               
                Apakah kau sepakat kalau bahagia itu murah? Bahagia memang tak cukup hanya dengan tersenyum. Tapi…
                Hari Jumat kemarin, untuk pertamakalinya aku ikut longmarch. Tak jauh memang, hanya sekitar 2 Km dari tempatku mengajar. Semua warga sekolah antusias, bahkan sepanjang jalan diiringi dengan lantunan sholawat jadi berasa seperti Maulidan.
                Longmarch berjalan lancar tak ada halangan yang berarti. Sesekali anak-anak berhenti karena lelah, lalu mampir ke warung membeli es untuk melepas dahaga. Di sampingku ada seorang murid imut, berjalan dengan gontai, tak ada teman. Sesekali ia memandangku, lalu kulempar senyum padanya.
                “Kau tidak membeli es?” kataku, dia hanya menggeleng lemah.
                “Kenapa?”
                “Tidak bawa uang saku Bu?” katanya. Aku tersenyum, lalu mengajaknya jalan bersamaku.
                Setibanya di sekolah aku mengambil uang lalu mengajaknya ke kantin. Kantin sangat ramai, maklum habis olahraga jadi mungkin anak-anak jadi haus dan lapar.
                “Eh ada bu guru, mau beli apa Bu?” tanya ibu kantin.
                “Es teh satu Bu” jawabku. Lalu es teh itu aku berikan pada anak tadi. Dia terlihat senang. Lalu ku tawari untuk membeli makanan lain tapi dia menggeleng, sepertinya sudah cukup senang dengan sekantung es teh, apalagi bu guru imut yang membelikannya. Hehe…
                Setelah selesai lalu ku bayar, harga sekantung es teh cuma 500 perak, murah sekali. Hanya dengan uang 500 perak kita bisa membahagiakan orang lain. Jadi bahagia itu murahkan?
bahagia itu adalah saat kita mampu memberikan kebahagian pada orang lain, betapapun sederhananya


                Tak berhenti sampai di sini, ada bahagia lain yang murah. Masih sama, bahagia 500 perak. Kali ini tentang seorang mahasiswa. Saat ujian di kampus sedang berlangsung, mahasiswa ini sibuk mencari dosen di ruang kuliah. Ujiannya memang take home, lalu dia berniat untuk mengumpulkan pada sang dosen. Karena bukan dosen jurusannya, jadi mahasiswa itu bingung mencari sang dosen, tepatnya dosen Fisika padahal dia bukan dari jurusan Fisika.
                Setelah mencari akhirnya dia ketemu dengan seorang dosen, tapi bukan dosen yang dicarinya. Mahasiswa itu bertanya, bukannya dijawab tapi malah disuruh membeli es di kantin. Setelah memberikan es pada dosen itu, sang mahasiswa menyerahkan uang kembaliannya. Namun sang dosen menolak.
                “Kembaliannya buat kamu saja.”
                Tuing, sepertinya mahasiswa itu kaget, lalu tersenyum sipu. Sang dosen cuma mesem, mungkin tersenyum dalam hati. Ngledek nih, batin mahasiswa itu. Lalu dia pun pergi setelah diberitahu keberadaan dosen yang dicarinya oleh dosen tadi.
                Mahasiswa itu masih menggenggam uang kembalian tadi, 500 perak! Dia geleng-geleng, lalu tersenyum. Lumayanlah! ^_^

·         The Way of Happines:
1.       Cara Berpikir
2.       Cara meyakini suatu hal
3.       Pilihan emosi
4.       Semangat spiritual

Yuk bahagiakan diri kita dengan cara yang murah; Tersenyumlah dan jangan bosan ^_^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar