Sabtu, 18 Januari 2014

Cerpen Horor, gak serem sih..hehe..

Ini Cerpen yang dimuat di Majalah Story, malu banget kalo baca ini, abis isinya gak mencerahkan hehe..Iseng-iseng bikin cerpen pas lagi pusing buat instrumen penelitian skripsi ^_^, alhamdulillah dimuat!





The Mystery of Brooch

            “ Hei lihat teman-teman aku menemukan bros cantik .” Lisa menunjukkan bros yang baru saja dia temukan pada keempat  temannya yang sama-sama sedang dihukum  Pak Surya guru sastra Indonesia mereka.
            “ Bentuknya aneh sekali perpaduan antara bintang dan matahari dan di tengahnya ada batu permata yang indah.” Rani yang hobi menggambar itu berkomentar. Dia mengambil bros itu dari tangan Lisa dan menimang-nimangnya.
“ Sepertinya ini asli dari emas pasti harganya mahal. Di mana kau menemukannya Lis?.” Semua temen-temannya menatap Lisa.
“ Mmmm… aku menemukannya di bawah lemari pas aku lagi nyapu di bawahnya.” Terang Lisa pada teman-temannya.
“ Iiih…kok aku jadi merinding ya?” Desi yang penakut itu mulai berkomentar. “ Jangan-jangan di sini ada hantunya lagi.”
Mendengar kata-kata hantu bulu kuduk mereka jadi merinding.
“ Ih, apaan sih kamu Des, nakut-nakutin aja. Dasar penakut!.” Kali ini Sinta yang rasionalis menimpali.
“ Jangan-jangan apa yang dikatakan Desi bener lho Sin. Ruangan ini kan dulunya dipake buat kelas, tapi semenjak ada siswa yang meninggal, kelas ini ditutup dan dijadikan gudang. Menurut cerita yang saya dengar di ruangan ini sering terdengar suara orang baca puisi kadang suara orang menyanyi lalu menangis .” Putri yang hobinya nonton Sherlock Holmes mencoba menganalisis. Semua teman-temannya terdiam, mereka tenggelam dalam pikirannya masing-masing.
“ Kalau memang ruangan ini berhantu ngapain Pak Surya menyuruh kita membersihkan ruangan ini?” Sinta masih tak percaya dengan cerita Putri.
“ Ya sudahlah kita lanjutkan saja bersih-bersihnya nanti kita bisa ketinggalan pelajaran lagi.” Lisa merebut bros yang dia temukan dari tangan Rani. Kemudian mereka berlima melanjutkan hukuman yang diberikan Pak Surya atas perbuatan mereka yang tidak mengerjakan pekerjaan rumah.
☼☼☼
“ Kembalikan bros ku jangan kau ambil dariku. Takkan kubiarkan kau memilikinya. Berikan padaku!”  Wanita itu mengejar-ngejar segerombolan lelaki yang merampas bros dari bajunya. Dia berusaha merebutnya kembali hingga terlempar keluar dari jendela kelas berlantai dua itu.
Lisa terbangun dari tidurnya nafasnya tersengal dan keringatnya membasahi sekujur tubuhnya. Dia mengalami mimpi yang aneh. Siapa sebenarnya pemilik bros itu? Lisa bertanya-tanya dalam dirinya. Kemudian dia mengambil bros dari tas nya dan menyematkannya di baju tidurnya. Lisa merasakan sensasi yang aneh ketika dia memakai bros itu, segera ia melepaskan kembali bros itu dari bajunya.
☼☼☼
“ Jadi semalam kamu mimpi buruk tentang bros itu Lis?” Putri yang baru datang segera berkomentar setelah Lisa menyudahi cerita tentang mimpinya semalam. Lisa mengangguk lemah.
“ Apa itu berarti roh pemiliknya gentayangan mencari brosnya ya?” kali ini Desi yang angkat bicara. Semua teman-temannya mencibirnya. Meskipun penakut Desi memang hobinya selalu mengaitkan segala sesuatu dengan dunia mistis.
“ Aku jadi penasaran siapa pemilik bros ini.” Putri menyatakan ketertarikannya pada misteri bros itu
“ Sudahlah Put gak usah dibahas lagakmu kaya detektif aja, he…he…he…” Sinta tertawa diikuti oleh teman-teman yang lain. Tiba-tiba bel istirahat selesai mereka berlarian menuju kelas. Kebetulan jam terakhir ini pelajaran sastra Indonesia. Putri, Desi, Santi, dan Rani berlari menuju kelas namun Lisa masih terduduk di kursi kantin. Dia mengeluarkan sesuatu dari tasnya batu permata itu berkilauan diterpa teriknya matahari. Lisa menyematkan bros itu di baju seragam osisnya lalu bergegas ke kelas menyusul teman-temannya.
Suasana kelas begitu hening. Meskipun pelajaran sastra Indonesia tapi suasana pembelajarannya menegangkan bahkan pelajaran matematika yang selalu jadi momok menakutkan kalah tegangnya dengan pelajaran sastra Indonesia yang diajar sama Pak Surya guru misterius itu yang belum menikah sampai sekarang padahal rambutnya hampir putih semua.
Tatapan Pak Surya sangat tajam apalagi kalau sedang memperhatikan  Geng Star, Lisa dan teman-temannya. Soalnya mereka itu, Lisa, Putri, Santi, Desi, dan Rani selalu menyepelekan pelajaran sastra Indonesia karena menurut mereka belajar sastra itu tidak penting. Pak Surya menanyakan tugas yang kemarin diberikan pada siswanya. Kemudian dia menunjuk salah satu personel Geng Star untuk membacakan puisinya di kelas.
“ Lisa, kamu maju.” Suara pak Surya membuat Lisa hampir terjatuh dari kursinya. Pak Surya tahu betul kalau Lisa adalah personel Geng Star yang paling benci dengan pelajarannya. Makanya dia menunjuk Lisa untuk memberikan pelajaran padanya.
Lisa agak ragu untuk berdiri namun tiba-tiba seperti ada energi baru yang merasukinya. Lisa menatap mata guru sastranya dengan tajam tak ada lagi keraguan untuk maju ke depan. Melihat tingkah Lisa yang aneh teman-teman Geng Star yang lain saling berbisik-bisik. Mereka khawatir Lisa akan melakukan kesalahan lagi.
“ Bacakan puisimu!” perintah Pak Surya. Lisa tersenyum tenang dia meletakkan buku di bangku paling depan kemudian memejamkan matanya seolah sudah menghapal semua bait puisi yang akan dibacanya. Anggota Geng Star mulai resah.

Anak sang bintang,
Kau boleh menyebutku demikian
Tak perlu matahari untuk bersinar di angkasa
Pun bulan
Karena aku memiliki cahaya
Yang menbuatku tegar di angkasa
Tapi,
Aku memerlukan malam untuk bersinar indah
Untuk kau bisa melihatku!
            Lisa membuka matanya dan kembali ke tempat duduknya di bangku paling belakang. Teman-teman kelasnya memberikan tepuk tangan atas pembacaan puisi Lisa, Geng Star pun lega. Tapi Pak Surya terlihat murung setelah mendengar puisi yang dibacakan Lisa. Beliau seperti sedang mengingat sesuatu,  Putri yang lebih mirip detektif itu dapat melihat perubahan di wajah gurunya. Diam-diam dia memperhatikan tatapan Pak Surya yang mengarahkan pandangannya pada Lisa. Lisa tak menyadari kalau ada mata yang sedang menatapnya.
☼☼☼
            ” Hebat banget puisimu Lis, kerasukan sastrawan dari mana? He...he...he...” Desi membuka percakapan Geng Star yang sedang siap-siap pulang kerumah masing-masing.
            ” Aku juga gak tahu darimana keberanian itu muncul. Padahal aku belum membuat puisi itu dan aku juga tidak merasa kalau aku sedang membaca puisi. Aneh sekali kan?” Lisa menjelaskan perasaannya saat membaca puisi.
            ” Oya judul puisimu apa?” Putri mulai menyelidik.
            ” Mana aku tahu,he...he...he...”
            Hanya Putri yang bisa melihat keanehan ini, dia yakin orang yang membaca puisi di kelas tadi bukanlah Lisa tapi ada jiwa lain yang merasukinya dan tatapan aneh dari Pak Surya membuat rasa penasarannya semakin besar. Akhirnya mereka berpisah di pintu gerbang sekolah, hari ini mereka tidak pulang bersama. Begitu melangkahkan kaki keluar dari gerbang Lisa dicegat oleh seseorang yang selama ini hampir dibencinya.
            ” Lisa...bolehkah aku berbicara sebentar? ” Lisa agak ragu menjawab.
            ” B..boleh Pak? ”
            ” Darimana kau dapatkan puisi itu? Tanya Pak Surya menyelidik.
            ” Puisi yang mana Pak?”
            ” Yang kau baca tadi di kelas.”
            ” Oooh, itu puisiku ko. ”
            ” Bohong! ” Pak Surya tidak bisa mengendalikan emosinya. Tiba-tiba dia menatap bros yang menempel di baju Lisa lama sekali dia menatap bros itu sehingga membuat Lisa salah tingkah.
            ” Maaf Pak kenapa menatap brosku seperti itu?”
            ” Oh...” Surya tersadar dari lamunannya. ” Lupakan saja Lis, permisi.”
            Lisa merasa aneh dengan sikap gurunya itu.
            Malam itu Lisa dihantui oleh mimpi aneh lagi. Dia melihat seorang wanita yang memakai bros itu sedang menangis dan mencurahkan kegundahannya pada seorang laki-laki. Namun Lisa tidak bisa melihat dengan jelas siapa laki-laki dalam mimpinya itu. Kemudian Lisa terbangun, alarm yang dipasangnya sudah menunjukkan jam lima pagi. Dia bergegas ke kamar mandi.
            Aku?
            Ragaku semakin letih
            Jiwaku rapuh
            Tak ada yang mengerti
            Ku mencari
            Ia yang mampu menguatkanku
            Ku tak pernah meminta beban itu pergi
            Ku hanya meminta
Tuhan kuatkan aku!
Lisa membuka matanya ia tak menyadari apa yang dia lakukan tadi. Mamanya tersenyum dan berkata pada anaknya.
” Sejak kapan kamu menyukai puisi Lisa? Setahu mama kamu paling anti sama sastra.”
” Emangnya tadi aku baca puisi apa Ma? Perasaan aku gak baca apa-apa.” Lisa tak percaya dengan yang dikatakan mamanya.  
” Tanya aja sama Papa.” Lisa melirik ke arah papanya.
” Emang bener Pa? Tadi Lisa baca puisi? ” Papa Lisa cuma tersenyum mengangguk. Lisa semakin tak mengerti.
” Hey sayang, sejak kapan kamu pakai bros usang begini? Kalau kamu mau pake bros mama punya ko yang lebih bagus.” Mama Lisa terlihat tak suka dengan bros usang yang dipakai Lisa. Tapi Lisa menolak untuk melepas dari bajunya lalu ia berpamitan pada orang tuanya untuk berangkat ke sekolah.
Sesampainya di sekolah Lisa menceritakan mimpinya pada teman-temannya lagi. Namun tak ada yang percaya hanya Putri yang terlihat menyimak setiap perkataan yang keluar dari mulut Lisa. Putri mengamati semenjak Lisa memakai bros itu dia jadi terlihat aneh tak seperti Lisa yang dulu. Lisa lebih suka murung dan menyendiri dan yang lebih aneh lagi dia suka sekali menulis puisi atau membaca puisi sendirian padahal Putri tahu betul kalau Lisa tak suka pada puisi.
Hari ini Putri pulang sendirian dia buru-buru pulang karena ada acara dengan keluarganya. Tanpa sengaja dia menabrak seorang laki-laki yang tak lain adalah Surya guru sastra indonesia di kelasnya. Semua buku-buku Surya  berjatuhan sehingga berantakan. Segera Putri memungut buku itu dan mengembalikan pada gurunya. Dia merasa bersalah, setelah meminta maaf dia tak langsung pergi dia membiarkan gurunya untuk berlalu terlebih dahulu.
Setelah  Surya pergi Putri baru menyadari kalau ternyata ada sesuatu yang tertinggal dari buku gurunya itu. Putri segera memungutnya dan memasukkannya ke dalam tas dia bermaksud mengembalikannya esok hari.
☼☼☼
” Jangan lakukan itu padaku ku mohon kembalikan bros itu. ” perempuan itu tak henti memohon. Namun segerombolan laki-laki itu justru menertawakannya dan menjadikan brosnya  sebagai bulan-bulanan. Perempuan itu tak henti meminta brosnya, saat ia berlari untuk menangkap brosnya  dia terjatuh keluar dari jendela kelas yang berlantai dua. Melihat perempuan itu terjatuh segerombolan lelaki itu lari meninggalkan kelas dan melemparkan brosnya hingga masuk ke kolong lemari buku di kelasnya.
” Tida....aaak. ” Lisa terbangun lagi dari mimpinya. Nafasnya semakin memburu bayangan perempuan itu semakin jelas. Kemudian mulutnya menceracau tak jelas namun sebait puisi kembali ia lantunkan.

Sunyi malam tak berbentuk
Dinginnya merayapi sekujur tubuh
Biar kulawan getar angin dingin
Tak peduli,
Walau raga semakin letih
Ku harus lewati malam dengan payah
Tuk menyongsong esok yang lebih cerah
 Dari luar kamar mama Lisa menangis melihat keanehan yang terjadi pada anaknya.
Keesokan harinya Lisa tidak masuk sekolah dia terbaring sakit di kamarnya. Anggota Geng Star lainnya datang ke rumah Lisa sepulang dari sekolahnya. Santi, Desi, dan Rani menemani Lisa di kamar sementara Putri sedang berbincang-bincang dengan mamanya Lisa.
” Aku yakin ada yang tidak beres dengan Lisa tante. Akhir-akhir ini dia sangat aneh lain dari biasanya. ”
” Kamu benar sekali Putri tante juga tidak tahu apa yang menyebabkan Lisa jadi seperti itu. Semalam dia mimpi buruk lagi dan kemudian keluar puisi dari mulutnya dia kelihatan sangat sedih Putri. Apakah Lisa punya masalah dengan teman di sekolah?”
Sejenak Putri terdiam. ” Setahu aku Lisa tidak punya masalah dengan teman sekolahnya Tan, apa ini ada hubungannya dengan bros yang Lisa temukan ya?”
” Bros?”
” Iya, apa tante sudah melihatnya?”
” Iya, tante sudah melarangnya untuk tidak memakai bros itu tapi sia-sia Lisa bersikeras untuk memakainya. Tolong tante Putri.”
” Iya akan ku coba sebisaku tante. Ya sudah aku ke Lisa dulu ya Tan?” Putri beranjak menuju kamar Lisa. Lisa masih terdiam sementara teman-teman yang lain berusaha menghiburnya. Kemudian Lisa memanggil Rani dan membisikkan sesuatu padanya. Aku harus mendapatkan bros itu, tekad Putri.
Rani berusaha mengalihkan perhatian Lisa sehingga Putri dengan mudah melepaskan bros itu dari baju Lisa, Putri segera memasukkannya dalam tas.
☼☼☼
Putri masih memandangi bros di tangannya. Dia penasaran dengan misteri yang ada dalam bros itu, mungkinkah ini ada hubungannya dengan mimpi-mimpi Lisa. Barangkali pemilik bros ini ingin memberi petunjuk pada Lisa lewat mimpinya? Putri berpikir keras, tiba-tiba dia teringat sesuatu. Sepertinya dia pernah melihat bros yang sama di sebuah foto. Ya tak salah lagi, Putri membuka tas sekolahnya dan mengambil foto itu. Ia memperhatikan bros yang dipakai wanita dalam foto itu benar-benar mirip. Putri tersenyum sepertinya dia hampir menemukan jawaban dari misteri bros itu. Besok aku harus menemuinya.
Putri berusaha memejamkan mata namun hasilnya nihil. Tatapan matanya tak mau lepas dari bros perpaduan bintang dan matahari itu. Perlahan Putri memejamkan matanya sayup ia mendengar seseorang membaca puisi...
Malam ini mata enggan terpejam
Melihat bintang bertaburan
Serasa dirimu berada di sekitarnya
Ku ingin terbang memetik bintang
Apalah daya diri ini tak bersayap...

Putri terbangun. Baru saja ia melihat perempuan di foto itu hadir dalam mimpinya.
☼☼☼
” Untuk apa kau mengajakku ke sini Putri? ” Pak Surya merasa heran tak seperti biasanya Putri mengajaknya bertemu seperti ini.
” Kenapa bapak belum menikah? ”
” Apa ?” Surya merasa pertanyaan siswanya itu mengusik privasinya.
” Oh, maaf pak saya tidak bermaksud menyinggung Bapak. Sebenarnya saya ingin menanyakan sesuatu. Apa bapak kenal dengan perempuan dalam foto ini?” Putri menunjukkan foto yang ia temukan dua hari yang lalu. Dia melihat mimik gurunya berubah.
” Darimana kau dapatkan foto itu Put? ”
” Dua hari yang lalu saat aku menabrak Bapak lalu kutemukan foto itu terjatuh. Semalam wanita ini hadir dalam mimpiku. Sebenarnya ada hubungan apa antara bapak dengan wanita dalam foto itu dan ada apa dengan bros itu?” Putri memohon pada gurunya agar dia mau menjelaskan siapa perempuan dalam foto itu.
Lama Surya merenung kemudian dia membuka mulutnya menceritakan siapa sebenarnya wanita dalam foto itu.
”Namanya Najma. Najma berarti bintang, dia salah satu siswi di sekolah kita lima tahun yang lalu. Dia meninggal karena terjatuh dari lantai dua. Aku tak tahu kejadian yang sebenarnya. Dia anak yang kesepian karena ditinggal orang tuanya dia selalu menceritakan masalahnya padaku. Lalu aku mengajarinya untuk meluapkan perasaannya pada puisi agar dia sedikit tenang. Satu hari sebelum dia meninggal aku memberinya sebuah bros.” belum selesai Surya bercerita Putri memotongnya.
” Seperti ini brosnya?” Putri menunjukkan bros itu pada Surya.
” Ya, itulah bros yang kuberikan padanya untuk menghibur kesedihannya. Namun di hari kematiannya aku tidak menemukan bros itu di bajunya aku sudah mencarinya namun tak kutemukan hingga bros itu sampai di tangan Lisa. Waktu itu aku ingin mengambilnya dari Lisa tapi aku pikir barangkali itu bros yang lain. Aku tidak percaya kalau Lisa akan membaca puisi yang sama dengan puisi yang dibacakan Najma lima tahun yang lalu saat aku menyuruhnya membacakan puisi miliknya.”
” Apa bapak mencintai Najma? ”
Surya tersenyum. ” Ya aku mencintainya namun tak pernah berani mengungkapkannya karena dia adalah muridku. ”
” Apa mungkin mimpi yang dialami Lisa itu benar ya Pak kalau sebenarnya Najma meninggal karena dijadikan bulan-bulanan oleh teman sekelasnya hingga akhirnya dia terjatuh dan meninggal? ”
” Ya aku juga mengalami mimpi yang sama, aku sudah mencari laki-laki itu tapi aku tak pernah menemukannya mereka semua menghilang.”
” Baiklah terimakasih atas ceritanya Pak. Aku kembalikan bros ini padamu  karena bapak lebih berhak menerimanya. Simpan baik-baik Pak agar bros ini tidak ditemukan orang lain. Aku tidak ingin bros ini mempengaruhi siswi yang lainnya.”
Putri meninggalkan Surya sendirian dia bergegas menuju rumah Lisa.
☼☼☼
Angin malam bertiup dengan lembut. Surya berdiri di sebuah ruangan . Kelas yang sudah lima tahun tertutup. Ia mendekat ke jendela dan membiarkan wajahnya tersapu angin malam. Lama ia memejamkan mata, bros itu masih ada dalam genggamannya. Dia menggenggamnya dengan erat seolah ia sedang menggenggam tangan Najma siswi yang dicintainya.
Meski matamu sudah terpejam
Ku ingin tetap menyapa hatimu
Hadirkan aku dalam mimpimu
            Kerinduan yang mendalam
            Membuatku tak henti memahatkan syair di dinding hatimu
            Sampai kau membuka mata
            Dan kau dapati aku di hadapanmu...

Keesokan harinya ditemukan mayat seorang lelaki yang meninggal di kelas yang tertutup itu. Ia terbaring kaku di dekat jendela, di tangannya ditemukan sebuah bros perpaduan antara bintang dan matahari.



           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar