The
Mystery of Brooch
“
Hei lihat teman-teman aku menemukan bros cantik .” Lisa menunjukkan bros yang baru
saja dia temukan pada keempat temannya
yang sama-sama sedang dihukum Pak Surya
guru sastra Indonesia mereka.
“
Bentuknya aneh sekali perpaduan antara bintang dan matahari dan di tengahnya
ada batu permata yang indah.” Rani yang hobi menggambar itu berkomentar. Dia
mengambil bros itu dari tangan Lisa dan menimang-nimangnya.
“ Sepertinya ini asli
dari emas pasti harganya mahal. Di mana kau menemukannya Lis?.” Semua
temen-temannya menatap Lisa.
“ Mmmm… aku
menemukannya di bawah lemari pas aku lagi nyapu
di bawahnya.” Terang Lisa pada teman-temannya.
“ Iiih…kok aku jadi
merinding ya?” Desi yang penakut itu mulai berkomentar. “ Jangan-jangan di sini
ada hantunya lagi.”
Mendengar kata-kata
hantu bulu kuduk mereka jadi merinding.
“ Ih, apaan sih kamu
Des, nakut-nakutin aja. Dasar penakut!.” Kali ini Sinta yang rasionalis
menimpali.
“ Jangan-jangan apa
yang dikatakan Desi bener lho Sin. Ruangan ini kan dulunya dipake buat kelas,
tapi semenjak ada siswa yang meninggal, kelas ini ditutup dan dijadikan gudang.
Menurut cerita yang saya dengar di ruangan ini
sering terdengar suara orang baca puisi kadang suara orang menyanyi lalu
menangis .” Putri yang hobinya nonton Sherlock Holmes mencoba menganalisis.
Semua teman-temannya terdiam, mereka tenggelam dalam pikirannya masing-masing.
“ Kalau memang ruangan
ini berhantu ngapain Pak Surya menyuruh kita membersihkan ruangan ini?” Sinta
masih tak percaya dengan cerita Putri.
“ Ya sudahlah kita
lanjutkan saja bersih-bersihnya nanti kita bisa ketinggalan pelajaran lagi.”
Lisa merebut bros yang dia temukan dari tangan Rani. Kemudian mereka berlima
melanjutkan hukuman yang diberikan Pak Surya atas perbuatan mereka yang tidak
mengerjakan pekerjaan rumah.
☼☼☼
“ Kembalikan bros ku
jangan kau ambil dariku. Takkan kubiarkan kau memilikinya. Berikan
padaku!” Wanita itu mengejar-ngejar segerombolan
lelaki yang merampas bros dari bajunya. Dia berusaha merebutnya kembali hingga
terlempar keluar dari jendela kelas berlantai dua itu.
Lisa terbangun dari
tidurnya nafasnya tersengal dan keringatnya membasahi sekujur tubuhnya. Dia
mengalami mimpi yang aneh. Siapa sebenarnya pemilik bros itu? Lisa
bertanya-tanya dalam dirinya. Kemudian dia mengambil bros dari tas nya dan
menyematkannya di baju tidurnya. Lisa merasakan sensasi yang aneh ketika dia
memakai bros itu, segera ia melepaskan kembali bros itu dari bajunya.
☼☼☼
“ Jadi semalam kamu
mimpi buruk tentang bros itu Lis?” Putri yang baru datang segera berkomentar
setelah Lisa menyudahi cerita tentang mimpinya semalam. Lisa mengangguk lemah.
“ Apa itu berarti roh
pemiliknya gentayangan mencari brosnya ya?” kali ini Desi yang angkat bicara.
Semua teman-temannya mencibirnya. Meskipun penakut Desi memang hobinya selalu
mengaitkan segala sesuatu dengan dunia mistis.
“ Aku jadi penasaran
siapa pemilik bros ini.” Putri menyatakan ketertarikannya pada misteri bros itu
“ Sudahlah Put gak usah
dibahas lagakmu kaya detektif aja, he…he…he…” Sinta tertawa diikuti oleh
teman-teman yang lain. Tiba-tiba bel istirahat selesai mereka berlarian menuju
kelas. Kebetulan jam terakhir ini pelajaran sastra Indonesia. Putri, Desi,
Santi, dan Rani berlari menuju kelas namun Lisa masih terduduk di kursi kantin.
Dia mengeluarkan sesuatu dari tasnya batu permata itu berkilauan diterpa
teriknya matahari. Lisa menyematkan bros itu di baju seragam osisnya lalu
bergegas ke kelas menyusul teman-temannya.
Suasana kelas begitu
hening. Meskipun pelajaran sastra Indonesia tapi suasana pembelajarannya
menegangkan bahkan pelajaran matematika yang selalu jadi momok menakutkan kalah
tegangnya dengan pelajaran sastra Indonesia yang diajar sama Pak Surya guru
misterius itu yang belum menikah sampai sekarang
padahal rambutnya hampir putih semua.
Tatapan Pak Surya
sangat tajam apalagi kalau sedang memperhatikan Geng Star, Lisa dan teman-temannya. Soalnya
mereka itu, Lisa, Putri, Santi, Desi, dan Rani selalu menyepelekan pelajaran
sastra Indonesia karena menurut mereka belajar sastra itu tidak penting. Pak Surya
menanyakan tugas yang kemarin diberikan pada siswanya. Kemudian dia menunjuk
salah satu personel Geng Star untuk membacakan puisinya di kelas.
“ Lisa, kamu maju.”
Suara pak Surya membuat Lisa hampir terjatuh dari kursinya. Pak Surya tahu
betul kalau Lisa adalah personel Geng Star yang paling benci dengan
pelajarannya. Makanya dia menunjuk Lisa untuk memberikan pelajaran padanya.
Lisa agak ragu untuk
berdiri namun tiba-tiba seperti ada energi baru yang merasukinya. Lisa menatap
mata guru sastranya dengan tajam tak ada lagi keraguan untuk maju ke depan.
Melihat tingkah Lisa yang aneh teman-teman Geng Star yang lain saling
berbisik-bisik. Mereka khawatir Lisa akan melakukan kesalahan lagi.
“ Bacakan puisimu!” perintah
Pak Surya. Lisa tersenyum tenang dia meletakkan buku di bangku paling depan
kemudian memejamkan matanya seolah sudah menghapal semua bait puisi yang akan
dibacanya. Anggota Geng Star mulai resah.
Anak sang
bintang,
Kau boleh
menyebutku demikian
Tak perlu
matahari untuk bersinar di angkasa
Pun bulan
Karena aku
memiliki cahaya
Yang menbuatku
tegar di angkasa
Tapi,
Aku memerlukan
malam untuk bersinar indah
Untuk kau bisa
melihatku!
Lisa membuka matanya dan kembali ke
tempat duduknya di bangku paling belakang. Teman-teman kelasnya memberikan
tepuk tangan atas pembacaan puisi Lisa, Geng Star pun lega. Tapi Pak Surya
terlihat murung setelah mendengar puisi yang dibacakan Lisa. Beliau seperti
sedang mengingat sesuatu, Putri yang
lebih mirip detektif itu dapat melihat perubahan di wajah gurunya. Diam-diam
dia memperhatikan tatapan Pak Surya yang mengarahkan pandangannya pada Lisa.
Lisa tak menyadari kalau ada mata yang sedang menatapnya.
☼☼☼
” Hebat banget puisimu Lis,
kerasukan sastrawan dari mana? He...he...he...” Desi membuka percakapan Geng
Star yang sedang siap-siap pulang kerumah masing-masing.
” Aku juga gak tahu darimana
keberanian itu muncul. Padahal aku belum membuat puisi itu dan aku juga tidak
merasa kalau aku sedang membaca puisi. Aneh sekali kan?” Lisa menjelaskan
perasaannya saat membaca puisi.
” Oya judul puisimu apa?” Putri
mulai menyelidik.
” Mana aku tahu,he...he...he...”
Hanya Putri yang bisa melihat
keanehan ini, dia yakin orang yang membaca puisi di kelas tadi bukanlah Lisa
tapi ada jiwa lain yang merasukinya dan tatapan aneh dari Pak Surya membuat
rasa penasarannya semakin besar. Akhirnya mereka berpisah di pintu gerbang
sekolah, hari ini mereka tidak pulang bersama. Begitu melangkahkan kaki keluar
dari gerbang Lisa dicegat oleh seseorang yang selama ini hampir dibencinya.
” Lisa...bolehkah aku berbicara
sebentar? ” Lisa agak ragu menjawab.
” B..boleh Pak? ”
” Darimana kau dapatkan puisi itu?
Tanya Pak Surya menyelidik.
” Puisi yang mana Pak?”
” Yang kau baca tadi di kelas.”
” Oooh, itu puisiku ko. ”
” Bohong! ” Pak Surya tidak bisa
mengendalikan emosinya. Tiba-tiba dia menatap bros yang menempel di baju Lisa
lama sekali dia menatap bros itu sehingga membuat Lisa salah tingkah.
” Maaf Pak kenapa menatap brosku
seperti itu?”
” Oh...” Surya tersadar dari
lamunannya. ” Lupakan saja Lis, permisi.”
Lisa merasa aneh dengan sikap
gurunya itu.
Malam itu Lisa dihantui oleh mimpi
aneh lagi. Dia melihat seorang wanita yang memakai bros itu sedang menangis dan
mencurahkan kegundahannya pada seorang laki-laki. Namun Lisa tidak bisa melihat
dengan jelas siapa laki-laki dalam mimpinya itu. Kemudian Lisa terbangun, alarm
yang dipasangnya sudah menunjukkan jam lima pagi. Dia bergegas ke kamar mandi.
Aku?
Ragaku
semakin letih
Jiwaku
rapuh
Tak ada
yang mengerti
Ku
mencari
Ia yang
mampu menguatkanku
Ku tak
pernah meminta beban itu pergi
Ku hanya
meminta
Tuhan kuatkan aku!
Lisa
membuka matanya ia tak menyadari apa yang dia lakukan tadi. Mamanya tersenyum
dan berkata pada anaknya.
”
Sejak kapan kamu menyukai puisi Lisa? Setahu mama kamu paling anti sama
sastra.”
”
Emangnya tadi aku baca puisi apa Ma? Perasaan aku gak baca apa-apa.” Lisa tak
percaya dengan yang dikatakan mamanya.
”
Tanya aja sama Papa.” Lisa melirik ke arah papanya.
”
Emang bener Pa? Tadi Lisa baca puisi? ” Papa Lisa cuma tersenyum mengangguk.
Lisa semakin tak mengerti.
”
Hey sayang, sejak kapan kamu pakai bros usang begini? Kalau kamu mau pake bros
mama punya ko yang lebih bagus.” Mama Lisa terlihat tak suka dengan bros usang
yang dipakai Lisa. Tapi Lisa menolak untuk melepas dari bajunya lalu ia
berpamitan pada orang tuanya untuk berangkat ke sekolah.
Sesampainya
di sekolah Lisa menceritakan mimpinya pada teman-temannya lagi. Namun tak ada
yang percaya hanya Putri yang terlihat menyimak setiap perkataan yang keluar
dari mulut Lisa. Putri mengamati semenjak Lisa memakai bros itu dia jadi
terlihat aneh tak seperti Lisa yang dulu. Lisa lebih suka murung dan menyendiri
dan yang lebih aneh lagi dia suka sekali menulis puisi atau membaca puisi
sendirian padahal Putri tahu betul kalau Lisa tak suka pada puisi.
Hari
ini Putri pulang sendirian dia buru-buru pulang karena ada acara dengan
keluarganya. Tanpa sengaja dia menabrak seorang laki-laki yang tak lain adalah
Surya guru sastra indonesia di kelasnya. Semua buku-buku Surya berjatuhan sehingga berantakan. Segera Putri
memungut buku itu dan mengembalikan pada gurunya. Dia merasa bersalah, setelah
meminta maaf dia tak langsung pergi dia membiarkan gurunya untuk berlalu
terlebih dahulu.
Setelah
Surya pergi Putri baru menyadari kalau
ternyata ada sesuatu yang tertinggal dari buku gurunya itu. Putri segera
memungutnya dan memasukkannya ke dalam tas dia bermaksud mengembalikannya esok
hari.
☼☼☼
”
Jangan lakukan itu padaku ku mohon kembalikan bros itu. ” perempuan itu tak
henti memohon. Namun segerombolan laki-laki itu justru menertawakannya dan
menjadikan brosnya sebagai
bulan-bulanan. Perempuan itu tak henti meminta brosnya, saat ia berlari untuk
menangkap brosnya dia terjatuh keluar
dari jendela kelas yang berlantai dua. Melihat perempuan itu terjatuh
segerombolan lelaki itu lari meninggalkan kelas dan melemparkan brosnya hingga
masuk ke kolong lemari buku di kelasnya.
”
Tida....aaak. ” Lisa terbangun lagi dari mimpinya. Nafasnya semakin memburu
bayangan perempuan itu semakin jelas. Kemudian mulutnya menceracau tak jelas
namun sebait puisi kembali ia lantunkan.
Sunyi malam tak berbentuk
Dinginnya merayapi sekujur tubuh
Biar kulawan getar angin dingin
Tak peduli,
Walau raga semakin letih
Ku harus lewati malam dengan payah
Tuk menyongsong esok yang lebih cerah
Dari luar kamar mama Lisa menangis melihat
keanehan yang terjadi pada anaknya.
Keesokan
harinya Lisa tidak masuk sekolah dia terbaring sakit di kamarnya. Anggota Geng
Star lainnya datang ke rumah Lisa sepulang dari sekolahnya. Santi, Desi, dan
Rani menemani Lisa di kamar sementara Putri sedang berbincang-bincang dengan
mamanya Lisa.
”
Aku yakin ada yang tidak beres dengan Lisa tante. Akhir-akhir ini dia sangat
aneh lain dari biasanya. ”
”
Kamu benar sekali Putri tante juga tidak tahu apa yang menyebabkan Lisa jadi
seperti itu. Semalam dia mimpi buruk lagi dan kemudian keluar puisi dari
mulutnya dia kelihatan sangat sedih Putri. Apakah Lisa punya masalah dengan
teman di sekolah?”
Sejenak
Putri terdiam. ” Setahu aku Lisa tidak punya masalah dengan teman sekolahnya
Tan, apa ini ada hubungannya dengan bros yang Lisa temukan ya?”
”
Bros?”
”
Iya, apa tante sudah melihatnya?”
”
Iya, tante sudah melarangnya untuk tidak memakai bros itu tapi sia-sia Lisa
bersikeras untuk memakainya. Tolong tante Putri.”
”
Iya akan ku coba sebisaku tante. Ya sudah aku ke Lisa dulu ya Tan?” Putri
beranjak menuju kamar Lisa. Lisa masih terdiam sementara teman-teman yang lain
berusaha menghiburnya. Kemudian Lisa memanggil Rani dan membisikkan sesuatu
padanya. Aku harus mendapatkan bros itu, tekad Putri.
Rani
berusaha mengalihkan perhatian Lisa sehingga Putri dengan mudah melepaskan bros
itu dari baju Lisa, Putri segera memasukkannya dalam tas.
☼☼☼
Putri
masih memandangi bros di tangannya. Dia penasaran dengan misteri yang ada dalam
bros itu, mungkinkah ini ada hubungannya dengan mimpi-mimpi Lisa. Barangkali
pemilik bros ini ingin memberi petunjuk pada Lisa lewat mimpinya? Putri
berpikir keras, tiba-tiba dia teringat sesuatu. Sepertinya dia pernah melihat
bros yang sama di sebuah foto. Ya tak salah lagi, Putri membuka tas sekolahnya
dan mengambil foto itu. Ia memperhatikan bros yang dipakai wanita dalam foto
itu benar-benar mirip. Putri tersenyum sepertinya dia hampir menemukan jawaban
dari misteri bros itu. Besok aku harus menemuinya.
Putri
berusaha memejamkan mata namun hasilnya nihil. Tatapan matanya tak mau lepas
dari bros perpaduan bintang dan matahari itu. Perlahan Putri memejamkan matanya
sayup ia mendengar seseorang membaca puisi...
Malam ini mata enggan terpejam
Melihat bintang bertaburan
Serasa dirimu berada di sekitarnya
Ku ingin terbang memetik bintang
Apalah daya diri ini tak bersayap...
Putri
terbangun. Baru saja ia melihat perempuan di foto itu hadir dalam mimpinya.
☼☼☼
” Untuk apa kau
mengajakku ke sini Putri? ” Pak Surya merasa heran tak seperti biasanya Putri
mengajaknya bertemu seperti ini.
” Kenapa bapak
belum menikah? ”
” Apa ?” Surya merasa
pertanyaan siswanya itu mengusik privasinya.
” Oh, maaf pak saya
tidak bermaksud menyinggung Bapak. Sebenarnya saya ingin menanyakan sesuatu.
Apa bapak kenal dengan perempuan dalam foto ini?” Putri menunjukkan foto yang
ia temukan dua hari yang lalu. Dia melihat mimik gurunya berubah.
”
Darimana kau dapatkan foto itu Put? ”
”
Dua hari yang lalu saat aku menabrak Bapak lalu kutemukan foto itu terjatuh.
Semalam wanita ini hadir dalam mimpiku. Sebenarnya ada hubungan apa antara
bapak dengan wanita dalam foto itu dan ada apa dengan bros itu?” Putri memohon
pada gurunya agar dia mau menjelaskan siapa perempuan dalam foto itu.
Lama
Surya merenung kemudian dia membuka mulutnya menceritakan siapa sebenarnya
wanita dalam foto itu.
”Namanya
Najma. Najma berarti bintang, dia salah satu siswi di sekolah kita lima tahun
yang lalu. Dia meninggal karena terjatuh dari lantai dua. Aku tak tahu kejadian
yang sebenarnya. Dia anak yang kesepian karena ditinggal orang tuanya dia
selalu menceritakan masalahnya padaku. Lalu aku mengajarinya untuk meluapkan
perasaannya pada puisi agar dia sedikit tenang. Satu hari sebelum dia meninggal
aku memberinya sebuah bros.” belum selesai Surya bercerita Putri memotongnya.
”
Seperti ini brosnya?” Putri menunjukkan bros itu pada Surya.
” Ya,
itulah bros yang kuberikan padanya untuk menghibur kesedihannya. Namun di hari
kematiannya aku tidak menemukan bros itu di bajunya aku sudah mencarinya namun
tak kutemukan hingga bros itu sampai di tangan Lisa. Waktu itu aku ingin
mengambilnya dari Lisa tapi aku pikir barangkali itu bros yang lain. Aku tidak
percaya kalau Lisa akan membaca puisi yang sama dengan puisi yang dibacakan
Najma lima tahun yang lalu saat aku menyuruhnya membacakan puisi miliknya.”
”
Apa bapak mencintai Najma? ”
Surya
tersenyum. ” Ya aku mencintainya namun tak pernah berani mengungkapkannya
karena dia adalah muridku. ”
”
Apa mungkin mimpi yang dialami Lisa itu benar ya Pak kalau sebenarnya Najma
meninggal karena dijadikan bulan-bulanan oleh teman sekelasnya hingga akhirnya
dia terjatuh dan meninggal? ”
”
Ya aku juga mengalami mimpi yang sama, aku sudah mencari laki-laki itu tapi aku
tak pernah menemukannya mereka semua menghilang.”
”
Baiklah terimakasih atas ceritanya Pak. Aku kembalikan bros ini padamu karena bapak lebih berhak menerimanya. Simpan
baik-baik Pak agar bros ini tidak ditemukan orang lain. Aku tidak ingin bros
ini mempengaruhi siswi yang lainnya.”
Putri
meninggalkan Surya sendirian dia bergegas menuju rumah Lisa.
☼☼☼
Angin malam bertiup
dengan lembut. Surya berdiri di sebuah ruangan . Kelas yang sudah lima tahun
tertutup. Ia mendekat ke jendela dan membiarkan wajahnya tersapu angin malam.
Lama ia memejamkan mata, bros itu masih ada dalam genggamannya. Dia
menggenggamnya dengan erat seolah ia sedang menggenggam tangan Najma siswi yang
dicintainya.
Meski matamu sudah terpejam
Ku ingin tetap menyapa hatimu
Hadirkan aku dalam mimpimu
Kerinduan
yang mendalam
Membuatku
tak henti memahatkan syair di dinding hatimu
Sampai
kau membuka mata
Dan kau
dapati aku di hadapanmu...
Keesokan harinya
ditemukan mayat seorang lelaki yang meninggal di kelas yang tertutup itu. Ia
terbaring kaku di dekat jendela, di tangannya ditemukan sebuah bros perpaduan
antara bintang dan matahari.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar