Senin, 17 November 2014

Ubah Mindset






            Menurutku tubuh indah itu tidak selalu identik dengan ramping, asalkan sehat dan terawat itu lebih dari cukup. Tidak perlu memaksakan diri untuk mengikuti program diet yang membuat tubuh tidak nyaman. Aktivitas yang padat menuntut tubuh untuk selalu fit dan itu bisa dipenuhi salah satunya dengan asupan makanan yang cukup.
Sah-sah saja jika seseorang terutama perempuan memiliki keinginan untuk memiliki tubuh yang ramping, tapi jangan sampai keinginan itu merusak pola makan yang seharusnya apalagi sampai terjadi bulimia atau anoreksia. Puasa bisa menjadi salah satu alternatif untuk mengatur pola makan atau bisa juga mengatur pola makan ala food combining yang sekarang sedang ngetrend.
Kinerja tubuh manusia dipengaruhi oleh asupan makanan, jika tubuh memperoleh asupan yang cukup maka akan tersedia energi untuk melakukan berbagai aktivitas. Jangan sampai kebiasaan makan yang salah membuat aktivitas terhambat dan berdampak tidak baik bagi kehidupan mendatang.
Tidak ada yang salah dengan tubuh gemuk asalkan sehat dan bugar. Agar tetap percaya diri ubah mindset tentang tubuh yang ideal, tidak perlu memikirkan pendapat orang lain tentang bentuk tubuh. Tetap makan secara teratur dan seimbang agar tubuh sehat, aktivitas lancar, masa depanpun gemilang. 

*Kompas Kampus 18 November 2014

Rabu, 03 September 2014

Memaknai Hari Jilbab Internasional



Masih  terbayang jelas di pikiran saya aksi Hari Wanita Internasional, 9 Maret 2010 lalu. Aksi yang digelar oleh Jaringan Muslimah Daerah( JARMUSDA) Semarang dan Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia Daerah (KAMMDA) Semarang yang tergabung dalam Serikat Muslimah Indonesia (SERUNI) itu mengusung tema tentang kebebasan berjilbab bagi muslimah di dunia, indonesia khususnya. Masalah yang klise memang, pelarangan jilbab di instansi-instansi tertentu masih saja ada sekalipun Indonesia yang Negara hukum sudah menjamin kebebasan warga negaranya untuk menjalankan agama dan keyakinannya masing-masing. 

                Aksi tersebut tidak lain adalah bentuk kepedulian kami terhadap wanita muslim yang ingin berjilbab secara sempurna tanpa ada diskriminasi dari lingkungan tempat dia belajar ataupun bekerja. Namun rupanya tindakan diskriminatif masih saja ada terhadap kaum wanita yang berjilbab secara sempurna( baca: lebar). Baru-baru ini saya menerima laporan di sebuah sekolah tinggi di Semarang, bahwa masih ada diskriminasi terhadap mahasiswa yang menggunakan jilbab(lebar) berupa skorsing dan pengurangan IPK , jelas ini sangat merugikan dan tidak adil bagi mahasiswa. Saya tak habis pikir, mengapa di jaman sekarang orang-orang masih saja berlaku tak adil pada mereka, muslimah yang berjilbab lebar. Adakah kesalahan atau kerugian yang ditimbulkan mereka sehingga mereka masih saja diperlakukan tidak adil?

                Jilbab bukanlah sebuah simbol belaka, tapi dia adalah syariat yang harus dijalankan oleh wanita muslim. Dia adalah bentuk ibadah yang tak bisa ditawar lagi bagi wanita muslim. Ketika seseorang atau sebuah instansi masih melarang jilbab(lebar) berarti ia telah mengusik kebebasan orang lain untuk beribadah menurut keyakinannya dan harusnya sudah termasuk pelanggaran hukum.
                Kembali kepada hari jilbab internasional. International Hijab Solidarity Day (IHSD), bermula pada konferensi di Inggris tahun 2004 yang dihadiri oleh tokoh-tokoh muslim di Eropa sehingga terbentuklah  Assembly for the Protection of Hijab ( Majlis untuk perlindungan jilbab) dan menetapkan 4 September sebagai hari jilbab Internasional.  Peristiwa ini dilatarbelakangi oleh terbunuhnya Marwa Al Sharbini (Mesir), seorang martir bagi perjuangan muslimah yang mempertahankan jilbabnya oleh seorang pemuda Jerman. Setelah kejadian itu haruskah ada Marwa- Marwa lain di Indonesia atau di belahan dunia lain yang harus terbunuh demi mempertahankan jilbabnya?
                Kepada siapapun yang tidak menginginkan lautan jilbab berkibar, adakah kesalahan pada diri  wanita muslim yang hendak menjalankan syariat islam(berjilbab) secara sempurna? Sehingga pelarangan ataupun tindakan diskriminatif masih saja terjadi? Kenapa wanita yang berpakaian  super mini dan ketat yang justru memicu tindakan pelecehan seksual bahkan kriminal masih saja dengan bebas melenggangkan tubuh mereka tanpa ada diskriminasi terhadap mereka? Ketika kita masih peduli dengan moral bangsa ini, maka tak ada alasan lagi untuk melarang wanita muslim mengenakan jilbabnya secara sempurna. Karena dengan memakai jilbab itu akan membangun karakter muslimah yang santun dan bertanggung jawab.
                Kepada seluruh muslimah di dunia, khususnya di Indonesia melalui momentum ini, mari kita kibarkan jilbab kita. Jangan pernah takut ketika yang kita pegang adalah sebuah kebenaran, kita layak mendapatkan perlindungan dan kenyamanan. Mari tunjukkan pada dunia, bahwa jilbab bukanlah penghalang untuk sukses dan berprestasi, justru di tangan kitalah akan lahir generasi yang akan memimpin dunia. Wahai muslimah, selamat hari jilbab internasional. Kibarkan lautan jilbab! 

                                                                               
                Eka Nur Apiyah
Koordinator Jaringan Muslimah Daerah (JARMUSDA) Semarang Raya
Mahasiswa UNNES

Kamis, 03 April 2014

Lembudana-Lembudini
 
Cerpen Eka Nur Apiyah* (Republika, 23 Maret 2014)


Lembudana-Lembudini ilustrasi Rendra Purnama
“JON, ke sini!” panggil seseorang pada Joni. Suaranya lirih hampir tak terdengar sedangkan napasnya berjungklatan tak teratur. Joni langsung mencari sumber suara. Ternyata itu suara Sapri, teman sekampungnya. Dengan rasa malas, Joni mendekati temannya itu.

“Kamu ngapain sih, Pri, ngumpet di situ?”
“Ssstt … jangan keras-keras, Jon, aku takut.”
“Takut sama siapa? Orang kampung sedang yasinan kok. Lagian buat apa ngumpet segala.” Sapri masih diam. Mengatur napas lalu meminta Joni untuk mendekat.
“Tadi … tadi ….”
“Tadi apa?” Joni tak sabar ingin mendengar apa yang hendak diucapkan Sapri kepadanya.
“Tadi aku melihat makhluk jadi-jadian, Jon,” Sapri bergidik, lalu melanjutkan ceritanya.
“Tadi pas aku memancing di Kali Pemali, aku melihat ada makhluk aneh. Gede banget.  Pokoknya serem Jon.”
“Ah kamu sih, udah tau malam Jumat Kliwon bukannya yasinan malah mancing.
Kualat kamu!”
Sapri terdiam, mengiyakan apa yang dikatakan Joni. Barangkali ini ganjaran untuknya yang berani melanggar kesepakatan warga. Sejak kejadian bocah tenggelam di Kali Pemali, warga Dumeling tak boleh memancing. Apalagi malam hari. Meskipun korban yang tenggelam itu bukan penduduk asli warga Dumeling Brebes. Kepala desa tetap melarang. Katanya, kali itu memang angker. Ada penunggunya.
***
“Jangan sekali-kali kalian mancing di Kali Pemali, pamali!” Suara pak kades masih terngiang di telinga Sapri, namun ia tak peduli. Pun dengan makhluk seram yang dilihatnya kemarin malam. Kemelaratan yang akrab dengan hidupnya membuat Sapri putus harapan. Terbayang pikiran lain dalam otaknya. “Aku harus kaya,” pekiknya dalam hati.
Seperti biasa, Sapri merenungi nasibnya. Kapankah Tuhan akan mengabulkan doanya? Ah, persetan! Sapri mengutuk. Mengutuk malam yang tak jua ramah padanya. Kailnya masih tenang, setenang aliran Pemali di depannya. Tak ada riak. Tak ada gelombang. Hanya diam.
Ia sudah tak acuh akan larangan di desanya. Dia yakin tak akan mati oleh makhluk buas itu. Makhluk itu tak mungkin memangsanya. Toh dia pribumi, asli Dumeling. Tiba-tiba ada yang bergerak, kailnya disentak. Sapri semringah, ada ikan besar yang tersangkut pikirnya.
***
Malam ini tak ada ronda. Desa aman. Seluruh warga meluruh di rumah masing- masing. Hanya Joni yang masih bertandang di rumah pak kades, ngopi sembari bercerita tentang makhluk yang dilihat Sapri tempo hari.
“Apakah ini pertanda akan muncul malapetaka, Pak?” Joni meminta pendapat Pak Warjo, kepala Desa Dumeling. Sesepuh itu merupakan pribumi yang sudah lama menetapi desa itu sehingga paham seluk- beluk serta legenda Kali Pemali.
Warjo menggeleng. Ia pun tak mengerti mengapa makhluk itu tiba-tiba muncul lagi setelah sekian lama beritanya tenggelam terbawa arus Pemali.
“Kita berdoa saja Jon semoga tak terjadi apa-apa.” Warjo masih berusaha menutupi kekhawatirannya. Dia berdoa. Semoga apa yang dilihat Sapri tempo hari itu bukanlah Lembudana-Lembudini. Hanya ilusi dan halusinasi akibat ketakutan yang berlebih. Tiba-tiba keringat Warjo menetes, aneh, padahal cuaca dingin. Warjo kaget sampai gelas di tangannya merosot. Joni ikut tersentak, lalu menghampiri Warjo.
“Kita harus ke Pemali sekarang.”
Dua laki-laki itu bergegas. Menerabas rerumputan yang menjulang. Senyap. Kali Pemali masih senyap, tak ada riak atau gelombang. Warjo menerawang. Pikirannya masih kacau pun napasnya memburu. Dia mengerti.
“Bagaimana Pak, apa ada tanda-tanda?”
Warjo masih menggeleng, dia tak ingin orang di sampingnya ketakutan. Lalu, dia mengajak Joni untuk meninggalkan tempat itu. Tiba- tiba, kaki Warjo menginjak sesuatu. Sebuah sandal, dia tahu itu adalah sandal miliknya yang dipinjam Sapri. Dua hari yang lalu Sapri meminjamnya, dia bilang sedang tak punya uang untuk beli sandal.
“Celaka, ini celaka!” tanpa sadar kata- kata itu meluncur dari mulut Warjo. Joni bingung, namun dia tak mau banyak tanya. Meski dadanya berkecamuk rasa ingin tahu.
***
“Gawat, Pak … gawat!” sebuah suara mengagetkan Warjo yang sedang melebur dengan zikir yang masyuk pada keesokan harinya. Dia bergegas menghampiri pemuda itu.
“Ada mayat mengapung di Kali Pemali, Pak! Tak jelas siapa, wajahnya menelungkup ke bawah. Tak ada yang berani mengangkat. Takut ikut tenggelam.”
Pagi itu, warga Dumeling resah. Setelah sekian lama tenang, kini desa itu seperti kejatuhan meteor dari langit. Ribut. Warga saling berbisik. Berkerumun di pinggir kali. Namun, tak ada yang berani mengangkat mayat itu hingga ke tepi.
“Angkat mayat itu!” pinta Warjo pada warganya. Namun, semua masih terdiam.
Menahan kengerian.
“Kita tak bisa membiarkan mayat itu terus mengambang di kali, mari kita angkat, lalu kita semayamkan sebagaimana mestinya.”
Ajakan itu masih belum bersahut, akhirnya Warjo menceburkan diri. Menarik mayat itu dengan tambang. Alangkah terkejutnya Warjo setelah tahu mayat siapa yang mengambang itu, Joni. Pemuda yang menemaninya ke Kali semalam.
Alunan Yasin menggema di sebuah ruang. Sementara, Warjo masih menyepi, di sudut dengan pikiran kalut. Bagaimana mungkin ini terjadi? Hatinya masih bertanya, tak percaya akan kejadian ini.
Apakah Lembudana-Lembudini benar-benar sedang murka sampai-sampai dia membunuh pribumi? Siapa yang tega membunuh Joni? Laki-laki itu adalah orang yang baik dan ramah.
***
Tok … tok … tok ….
Sebuah pintu rumah diketuk.
Diam Tak ada sahutan, sekali lagi.
Tok … tok … tok ….
Setelah dua kali ketukan halus, lalu berubah menjadi ketukan keras. Tak teratur.
Tok, tok, tok, tok, tok, tok, tok, tok, tok, tok, tok, tok, tok, tokkkkkkk!!!
Bruk!
Warjo terjatuh dari bale, tempat tidurnya. Lalu bangkit. Kupingnya tegak, pintu rumahnya masih digedor. Entah siapa, bertandang tengah malam. Mendadak bulu kuduknya juga ikut tegak.
Bunyi desisan terdengar jelas di telinga. Mungkinkah itu suara Lembudana-Lembudini? Keringat dingin mulai mengucur, dengan langkah getar Warjo membuka pintu. Tak ada siapa-siapa, bunyi ketok telah raib. Kembali angin panas menamparnya. Seperti ada tamu, tepatnya tamu tak diundang. Warjo terpejam, merapal mantra sakti. Berlindung dari godaan segala makhluk terkutuk.
“Tolong!” sebuah teriakan mengagetkan Warjo, dua orang warga berlarian menuju rumahnya.
“Tolong saya, pak kades, bayi saya hilang. Istri saya menjerit tak keruan. Ada makhluk menyerupai ular yang membopong bayinya.” Cerita salah satu di antara mereka.
“Iya, pak kades, anak saya juga hilang, padahal baru ditinggal sebentar sama istri saya.” Seru yang lain.
Warjo semakin lemas. Ia yakin kalau makhluk itu bukanlah Lembudini. Tak mungkin ia memangsa warganya sendiri. Joni, dua bayi itu, dan mungkin juga Sapri yang tak jelas rimbanya.
“Saat ini, semua warga sedang berkumpul di Pemali, Pak, berharap bayi kami akan ditemukan.”
Warjo masih terdiam.
“Baiklah kita ke sana sekarang.” Warjo dan dua orang itu berjalan menuju Pemali. Mulut Warjo masih tak henti merapal mantra sakti. Beberapa ayat suci ia lantunkan. Tak henti.
Warga Dumeling masih berkumpul di pinggir Pemali. Tampak seorang ibu menangis tak keruan. Ia menangisi anaknya yang hilang di Pemali tadi sore. Seorang warga melihat anak ibu itu terpeleset dan jatuh dari jembatan Pemali. Berarti sudah ada lima korban.
“Bagaimana ini, pak kades, kita harus segera bertindak. Kita tidak bisa membiarkan hal ini berlarut-larut, akan ada banyak korban nantinya,” ucap salah seorang warga.
“Setujuuu …” seru yang lainnya.
***
Dini hari, Warjo masih merenung. Memikirkan bagaimana menguak misteri yang terjadi di desanya. Lembudana-Lembudini mungkin telah murka pada desa ini. Tapi, apa yang membuatnya murka? Semenjak Sapri hilang, banyak korban lain yang berjatuhan. Apa ini ada hubungannya dengan Sapri? Sebenarnya, apa yang telah dilakukan Sapri hingga Lembudini murka?
Kalau saja Joni masih hidup, mungkin dia bisa membantunya. Malam Jumat Kliwon sebelum berita hilangnya Sapri, Warjo melihat Joni dan Sapri pergi mengendap-endap entah ke mana.
Barangkali saja mereka pergi ke Pemali. Kalau memang Lembudini yang memangsa Sapri, kenapa Joni juga tak ikut dimangsa? Ini berarti Sapri pergi ke Pemali lagi, makanya hanya dia yang hilang.
Entahlah, aku bingung. Tuhan, berikan petunjuk pada hamba yang lemah ini. Warjo menutup malamnya dengan doa yang panjang.
***
“Tolooooong … tolooooong … toloooong …” lolongan orang minta tolong itu semakin menusuk telinga Warjo. Orang itu diseret ular raksasa berkepala kerbau ke Pemali. Teriakannya semakin menjadi, Warjo kaku, tak berdaya. Sungguh kakinya tak mau digerakkan. Sementara, ular itu semakin dalam membawa korbannya ke dasar sungai. Riak bergelombang menenggelamkan ular itu bersama mangsanya.
“Joniiiiii ….” Warjo terbangun. Ternyata mimpi buruk. Benarkah Joni dimangsa Lembudini? Warjo masih ragu. Lalu, telinganya menangkap suara desisan. Mirip suara ular.  Benarkah itu ular? Atau, hanya pikirannya?  Dengan hati-hati, Warjo mengintip dari balik jendela, suara itu semakin jelas terdengar.  Lagi-lagi, hawa panas menyerangnya.
Warjo kaget hampir mati melihat sosok itu, tak percaya dengan pemandangan di depannya. Seekor ular raksasa, tapi bukan berkepala kerbau seperti yang dilihatnya dalam mimpi, akan tetapi seekor ular raksasa berkepala Sapri!
***
Malam hari ketika Sapri berpikir mendapat ikan besar, ia berusaha menarik kailnya, namun tak berhasil. Sekuat tenaga dia mempertahankannya, namun jebol. Ia terlempar ke Pemali, terbawa pusaran gelombang. Dalam dan semakin dalam. Sapri menangis, berontak. Tapi percuma.
Sapri tak mati, dia hanya berubah bentuk. Tubuhnya tak lagi utuh. Hanya tinggal kepala dan tangan. Sementara tubuhnya bersisik, menjelma ular. Jadilah raksasa ular berkepala Sapri. Dia tak mau begitu, tapi nafsunya membujuk. Dia tak mau hidup melarat terus, inginlah berubah kaya. Akhirnya, dia pun bersekutu dengan iblis.
Tak mudah memang menjadi budak iblis. Demi segepok uang, nyawa pun ditukarnya meski orang lain menjadi korbannya. Tak peduli meski Joni sahabatnya sendiri ia bunuh. Sebenarnya, tak ingin Sapri membunuh Joni, tapi sahabatnya itu memergokinya tengah membawa bayi seorang warga. Agar tak ketahuan, Sapri melilit Joni hingga mati lalu membuang mayatnya ke Pemali.
Menyesal memang, tapi Sapri tak berubah pikiran. Dia ingin kaya, untuk mundur pun tak bisa. Iblis telah menjeratnya.
***
Warjo masih membelalak, menatap tegak makhluk di hadapannya. Dicarinya mata Sapri. Dia menatapnya dalam seolah ingin berkata, Sadarlah Pri, kembali ke Tuhanmu.  Tak ada guna bersekutu dengan iblis, mereka pembangkang besar. Mereka akan terus menjeratmu dan membawamu ke neraka!”
Sapri melemas, tak lagi buas. Ditatapnya Warjo. Orang tua itu seperti bapaknya sendiri.
Berangsur tubuhnya beringsut meninggalkan Warjo yang mematung, lalu menceburkan diri ke Pemali.
Pagi itu warga geger lagi. Ada mayat yang terjebur di Pemali. Mengambang, wajahnya tak jelas. Hitam dan membiru. Warjo mendekat, memandang mayat itu lekat- lekat. Hatinya remuk, mayat itu sudah seperti anak sendiri.
“Akhirnya kau kembali, Pri,” pekiknya dalam hati, tangisnya pecah.
*Sosok kelahiran Brebes, 12 Agustus 1987, ini aktif sebagai pegiat sastra dan kini berdomisili di Brebes, Jawa Tengah.

Senin, 17 Maret 2014

Hati-hati, musyrik!

Sekarang itu lagi marak kasus pengobatan alternatif yang dianggap sesat karena metode penyembuhannya tidak sesuai atau menyalahi syariat Islam. Dalam proses pengobatannya biasanya mereka bekerjasama dengan makhluk sebangsa jin, sehingga kebanyakan diagnosis yang muncul dari pengobatan seperti ini adalah kena santet lah, ada yang ngirimin penyakitlah, dan lain sebagainya. Aku sendiri pun lebih memilih berobat secara medis dibandingkan ke pengobatan alternatif apalagi yang berhubungan dengan jin. Semua penyakit itu ada obatnya, tetapi kita pun harus hati-hati dalam menempuh jalur pengobatan, jangan sampai lantaran penyakit itu kita menjadi musyrik.

Sebenarnya aku tidak ingin bercerita tentang pengobatan alternatif ataupun kasus yang saat ini jadi trending topik, tapi kasus ini mengingatkanku pada sebuah memori lampau yang menyeretku pada dunia mistis, hehe..gak ding lebih tepatnya kisah yang menyangkut dunia per- Jin-an. Entah atas sebab apa ada seseorang yang menganggapku memiliki ilmu ghaib layaknya paranormal, padahal aku sama sekali tak memiliki kemampuan seperti itu.
Kisahku ini bermula ketika aku masih duduk di bangku SMA. Perkenalanku dengan dunia jin bermula saat seorang teman kos ku mengaku bisa berkomunikasi dengan jin, bahkan hampir semua keluarganya pun memiliki jin penjaga. Suatu hari dia berkata kepadaku, "nanti sore adikmu akan datang ke kos." aku kaget, lalu bertanya padanya. "Dari mana kau tahu?", dia tersenyum lalu berkata "temanku" yang memberitahu."
"Maksudmu?" tanyaku heran. "Ya jin dong siapa lagi?"
"Oh, jadi kamu bisa ngomong sama jin?"
 Tepat sore hari, tiba-tiba adikku datang ke kosan, adikku mondok di daerah Bulakamba jadi tidak begitu jauh dari kosku. Ternyata apa yang disampaikan temanku benar. Suatu ketika aku mengajaknya bicara, dunia jin membuatku tertarik untuk menelusurinya. "Bagaimana kau bisa berkomunikasi dengan jin?" kataku.
"Apa kau ingin sepertiku? aku bisa mengajarimu."
"Benarkah?"
Aku merasa senang lantaran mau diajari bagaimana berkomunikasi dengan jin. "Jika memang benar-benar ingin berkomunikasi dengan jin, harus siap-siap ada tata caranya," katanya lagi. Aku hanya mengiyakan tanpa tahu apa persyaratannya.
Dan, Subhanalloh Alloh menjagaku dari perbuatan musyrik, malam saat mau mengadakan ritual itu ternyata dia disuruh pulang ke rumah, sehingga kami batal melakukan ritual, dan atas ijin Alloh siang harinya aku mengikuti kajian tentang Jin meski pun aku tersesat dalam jamaah laki-laki. Dari situlah aku tahu kalau tipu daya jin kafir/ iblis itu sangat halus, mulanya mereka akan membuat kita rajin beribadah kepada Alloh, menyuruh melakukan hal yang baik, sampai kita bergantung pada mereka, dan saat itulah mereka akan berbalik dan menyuruh kita untuk ingkar. Setelah itu aku baru sadar bahwa meminta pertolongan atau bersahabat dengan jin adalah kesalahan besar, mereka hanya akan membuat kita semakin sesat.
Pengakuan dia bisa berkomunikasi dengan jin sebenarnya tidak ada masalah, hanya saja suatu aku dan teman kos yang lain sedang memasak mie untuk makan malam, tiba-tiba dia tersenyum sendirian di dapur. Lalu seorang temanku yang penakut bertanya padanya, "Ko kamu senyum sendiri sih?"
"Aku sedang melihat jin di pojok sana," tentu saja jawaban itu membuat temanku yang penakut itu ketakutan, dan yang paling menyebalkan adalah saat kami sedang asyik makan, tiba-tiba dia ngomongin jin lagi. "Semalam, aku bisa melihat jin di sekitar sini, yang paling sering adalah di dekat akuarium jin itu suka bermain di situ." sontak adik-adik kos berteriak ketakutan. Karena tidak tahan dengan ocehannya aku pun pamit ke kamar. Ini tidak bisa dibiarkan, batinku.Semenjak dia bercerita tentang jin-jin itu anak-nak kos jadi takut untuk sholat tahajud. Karena didorong rasa penasaran akhirnya malam itu aku tak tidur di kamar, tapi tidur di tempat yang dia bilang ada jinnya..Aku menunggu sampai larut malam namun tak ada hal yang aneh, bahkan lampu ku matikan tetap saja tak ada apa-apa hingga akhirnya aku benar-benar tertidur. Aku mengambil kesimpulan bahwa dia telah berdusta. Beberapa hari pasca cerita jin itu kondisi kos aman terkendali, hingga akhirnya terjadi lagi suatu hal yang menggemparkan, uang bendahara kos hilang! padahal kami sudah mengumpukan untuk keperluan mendadak. Lalu dengan santainya dia menghampiri kami dan berkata, "tenang aja uangnya ada di temenku ko,"
"maksudmu kamu menitipkannya pada jin?" kataku sewot, kenapa dia tidak minta ijin dulu pada kami padahalkan uangnya ada di kamarku. Untuk membuktikan kebenarannya lalu aku menantangnya, " kalo begitu kembalikan uang kami, saat ini kami membutuhkannya."
mendengar permintaanku dia tampak bingung, "waduh, aku tidak bisa mengembalikannya sekarang, aku harus pulang dulu katanya." dari jawabannya aku semakin yakin kalau dia berdusta.
Hingga pada suatu malam, saat aku sedang berdoa (kebiasaan kalo berdoa menghadap ke atas) tiba-tiba mataku menangkap sesuatu dari ventilasi kamarku, setelah aku ambil ternyata itu uang bendahara kos yang hilang, namun wujudnya sudah berbeda. Aha, aku punya ide untuk mengelabuinya! batinku.
Keesokan paginya giliran dia yang gempar, uang yang dia taruh di ventilasi hilang, katanya.
"Ko, uangnya ilang padahal jinku menaruhnya di ventilasi kamarmu Ka." aku pura-pura tidak tahu.
dengan santai aku jawab, "apa jinmu tidak bisa mencari tahu di mana keberadaan uang itu sekarang?" temanku itu hanya diam saja, sementara bendahara kosnya bingung. Lalu aku tarik bendahara ke kamar.
"Kamu gak usah khawatir uangnya ada padaku, semalam aku menemukannya di ventilasi. Aku hanya menguji kebenaran tentang jin itu."
Hari itu, aku sengaja pulang cepat lalu mengendap ke kamar temanku yang punya jin itu, aku sengaja menyelipkan uang ke tempat tidurnya, kalau jinnya memang hebat seharusnya dia bisa tahu di mana aku menyembunyikan uang itu.
Selang beberapa hari belum ada kabar tentang uang itu, artinya dia dan teman jinnya tak bisa menemukan keberadaan uang itu. Hingga akhirnya aku mengusulkan untuk menjemur kasur di hari minggu, dan bisa dibayangkan apa yang terjadi. Dia berteriak kegirangan lantaran berhasil menemukan uang kami, "hei teman-teman lihat! ternyata jinku menaruh uangnya di bawah kasurku," katanya. Aku hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala. " Ko uangnya berubah, dipake dulu sama jinnya ya?" komentarku. Dia cuma diam. Sekarang terbuktikan, kalau dia bohong! padahal kalau memang dia butuh kami akan meminjamkannya ko.
Cerita tentang temanku itu tak berhenti sampai di sini, dia semakin 'gila'. Suatu ketika aku bertanya padanya, "ko belakangan ini aku gak pernah liat kamu makan?"
"Aku sedang mengamalkan suatu ilmu Ka, aku bisa kuat tidak makan beberapa hari hanya dengan mencium bumi dengan mantra." Aku semakin tak mengerti dengan apa yang dilakukannya, hingga suatu ketika aku menemukan sebuah buku yang isinya tentang ilmu-ilmu pengasihan, rupanya dia sedang mengamalkan beberapa 'ilmu' yang terdapat di buku itu. Dia juga berubah total, aku jarang melihat dia sholat malam ataupun  tilawah, hingga akhirnya dia memutuskan untuk pindah kos.
Sekian lama terpisah dengannya, tiba-tiba ada seorang guru yang berkata padaku, "temanmu itu aneh Ka, dia sering sekali membawa laki-laki yang berbeda ke kos." aku terkejut mendengar penuturan bu Sri yang juga ibu kos temenku itu. Mungkinkah dia mengamalkan ajian pengasihan? Astaghfirulloh, apa yang terjadi dengannya? Belakangan dia juga jarang sekolah. Karena terpisah jarak, aku jarang komunikasi dengannya, dia seperti antipati terhadapku, aku tak merasakan ada kehangatan seperti dulu. Aku hanya bisa berdoa untuknya, hingga suatu ketika aku bermimpi dia memakai jilbab, cantik sekali. Mudah-mudahan ini pertanda kalau dia sudah menjadi lebih baik. Sejak kelulusan hingga saat ini aku tak pernah mendengar kabar tentangnya pun teman-teman yang lain tak ada yang tahu keberadannya.
Semoga Alloh melindunginya di manapun berada, bagaimanapun dia pernah mejadi sahabat terbaikku. Sejak saat itulah aku lebih berhati-hati dengan sesuatu yang berkenaan dengan jin! Meminta bantuan pada jin hanya akan semakin menambah dosa, minta tolonglah pada yang menciptakan jin dan manusia, Alloh!.

Bersambung...

Rabu, 12 Maret 2014

I'am not Terorist

Geli, jika teringat penggalan kisah-kisah silam. Ada haru, duka, gokil, serem, susah, senang, daaann lain-lain. Kemarin-kemarin tuh, pas tanggal 5 Maret adalah Women Day, atawa hari perempuan sedunia. Dulu, dulu banget aku bersama teman-teman Jarmusda Semarang dan KAMDA Semarang menggelar aksi yang tergabung dalam SERUNI, itulah pertama kalinya aku berorasi sebagai koordinator aksi, nampang di tipi-tipi, di berita-berita dan koran lokal sampai on-air sebagai narasumber di suatu stasiun TV di Semarang. Apa yang kami suarakan? Intinya satu: Kebebasan Berhijab! Jaman sekarang memang tak seekstrim jaman dulu, sekarang pake jilbab udah lebih tenang, tidak lagi tertekan seperti dulu, meskipun pada kenyataannya masih ada beberapa muslimah yang belum sepenuhnya bisa berhijab lantaran terbentur sebuah aturan manusia. Padahal bagi seorang muslimah, hijab adalah harga mati!



Ingatanku pun melayang ketika masa SMA, waktu itu berjilbab memang boleh namun masih kebanyakan aturan. Pake jilbab boleh, asal bet Osisnya kelihatanlah, namanya kelihatanlah, identitasnya kelihatanlah. Coba bayangkan sependek apa jilbabnya jika nama, identitas sekolah, dan bet Osis di saku harus kelihatan? yang ada jilbab jadi kaya tiang gantungan. Tapi aku yang waktu itu mantap untuk berhijab memilih untuk acuh tak acuh terhadap peraturan itu, meski beberapa kali ditegur sama wakasek tapi aku tak peduli. Bagiku berhijab sesuai syariat adalah harga mati!. Perlahan aturan itu pun mereda namun dampaknya cukup signifikan bagi siswa baru, mereka jadi takut untuk berjilbab sesuai syariat. Satu alasannya: takut sama peraturan! Hanya beberapa dari mereka yang bertahan. Semoga kami diberikan keistiqomahan.

Well, baiklah itu hanya adegan pembuka kisah ini. Sebenarnya aku mau bercerita tentang sebuah jilbab yang terkadang diidentikkan dengan teroris apalagi wanita yang berjilbab lebar dan hitam. Ah, aku tidak seseram itu kok, hehe..^_^..Siapa coba yang bilang aku serem?

Sebenarnya, tak ada yang salah dengan jilbab yang aku kenakan. Tetapi hanya karena masalah warna, interpretasi orang jadi bermacam-macam. Akupun lupa, sejak kapan aku lebih menyukai memakai jilbab hitam dibandingkan warna yang lainnya, yang jelas satu alasannya: Aku lebih nyaman dengan jilbab berwarna gelap apalagi hitam. Ini sama sekali tak ada hubungannya dengan ikut aliran tertentu pun tak ada aturan dalam Al quran harus memakai jilbab warna hitam, tak ada! Ini murni faktor kenyamanan disamping untuk mengurangi ketertarikan lawan jenis, tapi pernah juga sih gegara aku sering memakai warna hitam jadi ada yang ingin melamarku. Hehe..aneh itu orang, masa jawabannya begitu. Tapi pastinya dia punya alasan tertentu mengapa dia suka wanita berjilbab hitam ^_^. Disamping memakai jilbab hitam, aku juga lebih suka memakai pakaian dengan warna senada dengan jilbab, pokokmen warna gelap. Hingga sampai akhirnya ada seorang ustadzah yang berkomentar,  di era 2000an masih ada aja wanita yang memakai pakaian seperti ini, ketahuilah pakaian yang kita kenakan juga berpengaruh terhadap hubungan sosial kita dengan masyarakat. Ingatlah bahwa pakaian yang kita pakai itu bukan hanya untuk diri sendiri, namun juga untuk orang lain. dan perkataan beliau memang terbukti.



Lalu apakah aku langsung berubah? Ternyata belum, aku masih mengenakan jenis pakaian yang senada. Tapi sering minta pendapat pada orang lain, terlebih adik kelas yang baru mengenalku.
"Apa menurut kalian aku terlihat serem dengan pakaian seperti ini?" Mereka tersenyum, lalu berkata, " Tidak mba, tidak serem kok kan mba selalu tersenyum." Yes, lega batink, tetapi kemudian ada yang menimpali " Awalnya memang serem mba, tapi setelah kenal dan deket gak lagi ko, mbak orangnya asyik."
Hemm..kalau itu berarti emang harus ada yang dibereskan, karena orang akan tetap menilai dari kesan pertama. Baiklah sebelum aku bercerita tentang metamorfosis warna jilbab, aku ingin berkisah tentang "Aku dan jilbab hitamku, melawan dugaan terorisme" (hii..serem amet judulnya ^_^..biasa aja kok isinya)
Berikut kisahku bersama Hijab:
- Gegara  sering pake jilbab hitam aku disangka ikut aliran tertentu, terutama aliran-aliran sesat bahkan dibilangin sama pak polisi: apa nanti gak takut dituduh teroris? apa nanti gak takut susah nyari kerja?
- Gegara sering pake gamis hitam jadi sering dibilangin salah kostum sama ibu, masa mau kondangan kaya mau layat? pake pakaian item dari ujung kepala sampai kaki?
- Gegara pake gamis item, maksud hati untuk meredam perhatian lawan jenis malah mau dilamar!
- Gegara pake gamis item, aku dibilangain eksklusif sama banyak orang, contohnya saja pas lagi naik bus, tiba-tiba ada bapak yang duduk di sampingku dan tanpa sengaja tangannya menyenggolku, lalu beliau minta maafnya gak lumrah kayane ngrasa salaaah banget, padahal biasa aja wong namanya juga bus umum.
"Aduh, maaf nggih mbak gak sengaja," kata bapak itu menyesal.
"Oh, ndak apa-apa pak," jawabku. Mendengar jawabanku bapak itu malah kaget.
"Tumben dijawab," kata bapak itu lagi. Gantian aku yang bengong.
"Memangnya kenapa Pak?" tanyaku lagi.
"Biasanya orang kaya mba ini sombong, acuh tak acuh, diajak ngobrol diem aja..bla..bla..bla..."
Deg, segitunyakah? Alhasil sepanjang jalan jadi ngobrol ngalor ngidul sama bapak tadi, terbuktikan kalau aku gak serem? hehe...
- Dan yang parah aku disangka teroris! Ceritanya waktu itu memang lagi marak-maraknya kasus terorisme, kebetulan pakaianku waktu itu mirip istri-sitri orang yang disangka teroris. Pakai gamis hitam dari atas sampai ke bawah.
Sekitar tahun 2010an aku menghadiri sebuah acara kampus di Ambon, kebetulan aku berangkat dan pulangnya ke Bandara Internasional Juanda- Surabaya, jadi wajarlah kalau banyak bule. Waktu itu aku sedang di kamar mandi, setelah selesai aku bercermin di kaca bagian pintu masuk, disampingku ada bule berwajah cina sedang bercermin juga. Karena merasa ada orang di sampingnya bule itupun mendongakkan kepalanya. Coba tebak apa yang terjadi? Bule itu kaget setengah mati, lalu mundur beberapa langkah seolah memekikkan sesuatu. Sadar telah membuat orang ketakutan, aku langsung tersenyum sambil berucap " Don't be afraid, I'am not a terorist!" Bule itu langsung ngacir. Keluar dari kamar mandi aku tertawa ngakak! Astagfirulloh, dosa gak nih udah bikin orang ketakutan? ^_^.
Itu beberapa kisahku dengan black hijab, lalu bagaimana akhirnya hingga aku bermetamorfosis?

Ceritanya waktu itu aku jadi ketua Jaringan Muslimah Daerah Semarang, karena aku sering 'berkampanye' ke kampus-kampus apalagi kampus di seluruh wilayah Semarang itu banyak ragamnya aku jadi berpikir ulang untuk selalu memakai gaun serba hitam. Apalagi jargonnya Jarmus adalah Colouring the World, jadi aku diprotes sama ketua yang dulu agar tidak selalu memakai pakaian serba hitam. Akhirnya demi memudahkan gerak langkah aku merubah penampilan, tak drastis memang namun perlahan-lahan, agak terang. Hingga akhirnya aku dihadiahi jilbab warna kuning oleh Annisa FK UNISSULA, itu untuk pertamakalinya aku memakai jilbab berwarna kuning. Tak lama kemudian aku diminta ngisi kajian muslimah tentang kecantikan, what? itu pertamakalinya aku ngisi materi yang bersifat kewanitaan biasane kan training motivasi ato kepribadian muslimah, tepatnya di FK UNDIP bersama dengan  dua dosen Undip, dan untuk pertamakalinya aku memakai gamis merah! (gak kebayang sebelumnya, aku yang tomboy dan gelap sekarang jadi 'sedikit berwarna'..menyesuikan tema, masa materinya tentang kecantikan pake gaunnya hitam kan gak matching, meski hitam itupun sebenarnya cantik.


Karena tuntutan pekerjaan itulah perlahan aku mulai menambah koleksi warna kerudung dan bajuku dengan warna yang lebih cerah, karena banyaknya masukan dari orang sekitar. Toh, yang pentingkan bukan tentang warna tapi kesesuaian dengan syariat.
Colouring the World, memulai petualangan baru dengan Jarmus agar tak terkesan eksklusif. Sejak saat itulah aku terkesan sedikit feminin, maklum ibunya Annisa komentar beberapa adik kelas.Meskipun aku tetap lebih menyukai warna hitam. Tak ada maksud untuk menyudutkan wanita yang berjubah hitam, semua sah-sah saja selagi niatannya untuk beribadah dan menjaga diri, asalkan tidak mempersulit ruang gerak kita: mudahkan, jangan dipersulit, pertimbangkan kemaslahatannya. Tak ada yang salah dengan hijab kita apapun warnanya, asalkan prinsipnya terjaga its'ok. Dan akhirnya selamat berjilbab wanita shalihah!
Tersenyumlah dan jangan bosan, karena dengan senyum hidupmu lebih berwarna! ^_^


Berikan keistiqomahan pada kami Robb, hamba-Mu yang berusaha menjadi shalihah!

Selasa, 11 Maret 2014

Gara-gara Do It (Baca duit)

Teng..tong..teng..tong.
Gubrak!
Ternyata sudah jam 7 pagi gimana nih, kalau telat bisa bahaya! Jam pertama mid english lagi. Aku mempercepat gerakku. Segera ku sambar jilbab sekenanya, untung tadi sudah mandi, batinku. Segera ku bereskan tugas yang sedang kuselesaikan tadi. Karena sudah jam 7 lewat aku putuskan untuk naik angkot saja, pas mau keluar pintu kos baru teringat kalau aku belum bawa uang untuk bayar angkot nanti. Setelah mencari-cari dalam dompet yang sekarat akhirnya kutemukan segepok duit recehan, lumayan ada seribu rupe cukuplah buat naik angkot, tanpa pikir panjang kumasukkan duit recehan itu ke dalam saku kemejaku, kebetulan waktu itu aku pake kemeja bapak yang sudah kekecilan, lumayanlah masih bagus. Aku tak peduli meski duit recehan itu bergemericik di saku kemeja tanpa penutup itu, yang penting harus nyampai kampus secepatnya!.

Setelah berlari-lari dari kos menuju gang, akhirnya sampai juga di jalan raya. Detik demi detik, hatiku semakin resah, pikiranku pun kacau. Nih, angkot kapan datangnyaaaa, teriakku dalam hati. Kalo telat bisa berabe nih, sekarang otakku berteriak. Bayangan wajah dosen dan mid english seperti bintang berkejaran, pening untung gak sampe bikin sesak napas. Hugh! Setelah sekian lama menunggu akhirnya aku nyerah, maksudnya gak jadi naik angkot hehe..Akhirnya bukan hanya lengan baju yang kusingsingkan tapi juga rok Letter A ku. Bersedia...siap..ya! Tanpa menunggu peluit dibunyikan aku langsung ngacir lari, tak peduli meski jilbab mengembang diterpa angin, dan yang paling repot adalah, duit recehan di saku tadi berloncatan hendak keluar, akhirnya aku berlari dengan satu tangan menjinjing rok dan tangan yang lain memegangi saku agar duit itu tak melorot ke bawah.
Wush..wush..wush..dengan jurus kunyuk melempar buahnya Wiro Sableng (gak tau nih jurus pas kagak ya?)  akhirnya aku berhaslil lari mengejar angkot, namun untung tak dapat diraih Malang ibukota Jawa Timur (eh salah ding ^_^) angkot yang menjadi tumpuan harapan malah berhenti mendadak, akhirnya urung naik angkot deh. Lalu aku siap-siap berlari lagi, kali ini meminjam Ajian reka gunung punyanya Suda Wirat. Ciaattt!
Cling!
Akhirnya sampai di kampus juga saudara-saudara!
Hosh..hosh..hosh..dengan napas yang jumpalitan akhirnya sampai juga di depan pintu ruang kuliah. Kelas terlihat sunyi senyap, para penghuninya sedang terlelap dalam tulisan-tulisan bule yang tak hanya membuat dahi berkerut tetapi juga bisa membuat lidah melet kepedesen (lho apa hubungannya?..maklum aku kan tukang bakso. Lho tambah gak nyambung!) Dengan langkah yang diberanikan, ku hampiri sang lecturer.
"Sorry Sir, I'am come late!" (gak peduli bahasa inggrisku benar apa tidak yang penting artinya begitu lah ^_^).
Sang lecturer mengamatiku sejenak, sambil geleng-geleng kepala beliau menyilahkanku duduk. Lalu aku celingukan mencari soal mid. Seperti mengerti apa yang kucari, beliau menyerahkan lembar soal untuk kukerjakan. Namun soal itu ditariknya kembali.
"Mana tugas dari saya?"
Deg! aku baru ingat kalau tugas yang tadi belum selesai kukerjakan.
"Not yet Sir," jawabku sekenanya.
"Berarti kamu tidak bisa mengikiti mid ini, bukankah tugas itu sebagai syarat untuk mengikuti mid?"
Duh, gawat aku gak mau ketinggalan mid, bisa berabe nanti kan urusan mid masih banyak bukan english doang! Akhirnya dengan tampang memelas kusampaikan isi hatiku.
"Please Sir, give me a chance. I can do it, promise!" kataku dengan bahasa inggris ala kadarnya.
Akhirnya sang lecturer memberi kesempatan, yes teriakku dalam hati.
Karena tak diberi perpanjangan waktu, aku jadi gugup menyelesaikan soal tersebut. Bayangkan dalam waktu 60 menit harus mengerjakan soal essay yang setara dengan 100 nomerlah kurang lebih, pake bahasa bule pula. Saking gugupnya, tiba-tiba pulpenku terjatuh, dan...yang bikin keki adalah...duit receh yang tadi nyumpel di saku kemeja tiba-tiba berjumpalitan alhasil muncullah bunyi gaduh ala duit recehan disawer.
"What's happen?" kata sang lecturer kaget, tatapan matanya tepat mengenai retinaku (hehe). Aku gelagepan, sembari membetulkan letak kacamata aku menjawab semampunya.
"Duwit Sir..."
"Whuaattt?" tanya dosen galak.
Aku langsung merem, "Maksud saya Do it Sir, bukan duwit." Maksudku memang mau menjawab, "sedang mengerjakan soal mid, tapi karena basa buleku ala kadarnya jadinya keder, malah ngomongnya kedengaran duit deh, apalagi ada atraksi sawer receh segala lagi. Alhasil teman sekelaspun ikut ngakak. Tapi alhamdulillah sang lecturer memahami, jadinya beliau cuma geleng-geleng kepala aja. Nasip, teriakku dalam dada.

Berbekal doa dan ketawakkalan meski tanpa meminjam jurus saktinya Wiro Sableng atau tongkat sakti Harry Puter apalagi kantong ajaibnya Doraemonpun pun akhirnya soal-soal itu berhasil kugasak, hehe...Selesai duluan malah dibandingkan teman-teman yang lain.
Dengan penuh percaya diri akhirnya aku mengumpulkan jawaban mid semesternya.
"Ini pak, sekalian sama tugasnya."
Sang  lecturer malah bingung,"Lho, tadi katanya belum?"
"Emang tadi belum Sir, terus saya kebut dan akhirnya selesai bersamaan," jawabku cengar-cengir.
"Ok, Good Job!"
"Thanks Sir." Akhirnya akupun ngacir pergi dengan dada berdebar-debar karena gembira. Akibat berpikir keras, tiba-tiba tenggorokanku terasa kering, serasa gurun yang tak terjamah air hujan. Akhirnya ku rogoh saku kemejaku, aha! Masih ada uang recehan, seceng, lumayan buat beli es teh. Saat-saat seperti inilah kemudian sisi lain hatiku yang baik berkata, Maka nikmat tuhan yang manakah yang kamu dustakan?
Sekian dulu deh ceritanya, aku gak tahu isi ceritanya nyambung gak sama judulnya. tapi yang penting hatiku Ploooong!

Cerita ini kubuat sembari ngutak-atik naskah  pidato bahasa inggris buat lomba hari kamis nanti. Teringat kisah tahun 2006 silam, saat masih unyu-unyunya jadi mahasiswa ^_^! Semoga cerita ini cukup untuk menghibur hatiku yang sedang.....ah! (sedang apa ya? bingung mau ngomong apa,hehe..) ya sudahlah.
Thanks for your time!

Dalam kegalauan masih ada senyum,
Tersenyumlah dan jangan bosan ^_^

Selasa, 04 Maret 2014

Selalu Ada Cinta untuk Mereka...

Kami kanak-kanak
menuntut ilmu banyak-banyak
semangat keras tak lunak
patuh pada ibu bapak
ibulah menjaga malam siang petang dan pagi
bapak ibu berusaha
nafkahlah yang dicari...

Dengan semangat yang membara lagu itu mengalun dari bibir tebalmu, tanganmu mengepal, bergetar, mungkin grogi lantaran aku melihatmu dalam jarak yang dekat. Mulanya aku tak tahu kalau ada di sini. Maaf jika aku tak melihatmu kali pertama, aku benar-benar tidak tahu hingga akhirnya sampailah aku di sini, di depanmu menyaksikanmu sedang bernyanyi sebuah lagu yang dulu pernah ku dendangkan kala aku seusiamu. Mata tajammu tersipu saat aku berikan senyum untukmu.

Pagi itu, seperti biasa, aku berjalan menyusuri koridor sekolah, berjalan melewati beberapa ruang yang belum pernah kusinggahi. Kuedarkan pandangan ke seantero sekolah, hingga akhirnya mataku tertuju pada sebuah kepala yang menyembul dari balik pintu, ku perhatikan lalu kepala itu menghilang. Aku berpura-pura jalan namun mataku terus mengawasi, hingga akhirnya tatapan mataku bertemu denganmu,kau gugup namun aku buru-buru tersenyum padamu, lalu kepala itu menghilang lagi. Dalam hati aku berkata, sejak pertamakali aku masuk sekolah ini, aku belum pernah melihatnya. Siapa dia? anak kelas 6 yang memiliki bibir tebal dan bersorot mata tajam?

Dari balik jendela kelas, aku melihat seorang ibu duduk di beranda sekolah, di depannya bertengger sebuah sepeda mungil. Sesekali matanya melongok pada kelas di depannya, mungkin sedang menunggu seseorang pikirku.Ketika bel pulang berbunyi, ibu itu masih duduk menunggu, belum ada tanda-tanda orang yang ditunggunya keluar. Setelah membubarkan kelas aku berjalan menghampiri, ibu itu tersenyum sambil menganggukkan kepala, lalu ku balas dengan takzim."Aku menunggu putraku," katamu. Oh mungkin saja ibunya murid kelas 6, kebetulan mereka ada tambahan pelajaran. Baru kali ini aku melihat ada seorang ibu menunggui anaknya sekolah, padahal anaknya sudah kelas 6. Sungguh ibu yang baik hati, disaat tugas-tugas rumah tangga menanti, beliau masih sempat menunggui putranya.

Waktu pun berdetak, aku masih duduk di kantor menunggui jemputan yang tak kunjung datang. Kulihat ibu itu pun masih setia menunggu, hingga akhirnya tambahan pelajaran selesai, aku melihatmu membopong seorang anak laki-laki yang memiliki bibir tebal dan sorot mata yang tajam. Aih, aku baru tahu kalau pemilik bibir tebal itu adalah Gufron, penyandang kretinisme. Tubuhnya tidak berkembang sempurna, kerdil. Ibu itu menaikkan Gufron ke sepeda dengan sangat hati-hati. Ah, kau ibu istimewa tentu.


Tatapanku masih lekat pada anak di hadapanku ini, bibirnya belum berhenti menyanyikan lagu itu, matanya memerah lantaran semangatnya membara. Gufron, aku bangga padamu kecilnya tubuhmu tak membuatmu minder atau patah semangat. Alloh tentu menyayangimu, hingga Dia menjadikanmu anak yang cerdas. Aku percaya bahwa Alloh tak pernah menciptakan sesuatu dengan sia-sia. Alloh mencintaimu dengan cara yang lain. Dengan segala keterbatasanmu kau mampu mengalahkan mereka  yang secara fisik sempurna. Kau mampu bertahan dalam jejeran murid yang pandai, peringkat ke empat tentu bukan hal yang mudah untuk meraihnya jika tak dibarengi dengan kesabaran dan ketekunan. Semoga engkau bisa mewujudkan impianmu Nak. Meski aku tak sering mengajarmu, namun doaku ada untukmu. Karena aku pun mencintaimu...

Melihatmu, mengingatkanku pada sosok yang juga istimewa. Aku bertemu dengannya saat sedang kuliah kerja nyata di Batang. Tugasku hanya mengajari anak dan orang-orang yang buta aksara, meski itu telah beberapa tahun lamanya, namun senyum itu masih ku kenang.

"Hati-hati jika kau berjalan di depan rumah itu", seru seorang rekanku.
"Ada anak yang tak waras, dia sering melempari batu pada orang yang lewat di depannya, "katanya lagi. Aku hanya tersenyum mendengarnya. Tiba-tiba temanku berteriak,"lariiiii..." aku kaget, seorang anak laki-laki sedang melempari batu ke arah temanku. Lalu dia melihatku, spontan aku melambaikan tangan padanya,"Hai," seruku. Dia terdiam.Wajahnya lucu, bibirnya monyong sesekali ia mengerutkan dahinya.
"Ijinkan aku lewat ya?" kataku padanya, dia hanya diam, tak ada respon. Lalu akupun meneruskan perjalanan dengan santai. Kata anak-anak di desa itu, dia orang gila, tidak waras suka melempari orang dengan batu. Aku mendengar celoteh anak-anak binaanku sambil tersenyum. Mereka belum tahu, kalau sebenarnya dia tidak gila.

Keesokan harinya, aku berjalan melintas sawah, membawa harap bagi mereka yang masih buta akan angka, akan aksara. Bagi mereka aksara hanyalah deretan titik tanpa makna, bekerja  atau menjadi buruh tentu lebih mengasyikkan bagi mereka. Dan, itu tantangan bagiku, bagaimana membuat mereka yang telah udzur mau belajar mengeja, tak ingin menyia-nyiakan kesempatan aku juga menjejali mereka dengan huruf-huruf surgawi, yang terkandung pahala tiap kali melafadzkannya. Menjadikan sholawat, untuk pengobat hati yang bosan, aih mereka bersemangat, menirukan huruf-huruf surgawi sambil sesekali bersyair. 
Sore itu sendiri, melintasi hamparan padi yang belum kuning. Hembusan angin membuatku serasa melayang, membubung tinggi mengangkasa. Tiba-tiba aku merasakan sebuah lemparan batu di pinggangku, aku menoleh. Ada sebuah sosok yang ku kenal, dia menutup wajahnya dengan tangan.Malu.
"Kau, mau ikut denganku?"
Kau hanya diam, lalu menutup wajahmu lagi. Aku lanjutkan berjalan, lalu kau memanggilku.
"Ah..ah..ah..ah," hanya kata itu yang terucap. Tanganmu melambai kepadaku.
"Baiklah, ayo kita bersenang-senang." kataku sambil mengajaknya tertawa. Sebenarnya dia tidak nakal, kalian hanya perlu tahu bagaimana memperlakukannya.




"Kenapa kau bermain dengan anak yang gila?" tanya rekanku.
"Dia tidak gila," jawabku.
"Kita hanya perlu tahu bagaimana cara memperlakukannya."

 Alloh mencintai anak itu dengan cara yang lain. Dia istimewa, berbeda dengan yang lainnya. Ada kromosom dalam tubuhnya yang mengalami kelainan, trisomi, jumlah kromosom 21 nya mengalami  penambahan. Pada anak yang normal jumlah kromosomnya 46, tapi dia memiliki 47 kromosom. Sindrom Down, mereka memiliki ciri yang khas di wajahnya. Saat aku melihatmu aku mengerti, kau kesepian.

"Hagh..hagh..hagh.."Mulutmu menganga, tertawa, memperlihatkan gigimu yang tak rata. Matamu seperti hilang tertutup pipimu yang gembul. Mulutmu tak henti merucap, menepuk tangan berulang. Entah lagu apa yang sedang kau nyanyikan, apakah kau sedang mengikuti aku dan anak-anak bernyanyi di sekolah?
Pagi tadi, kau datang menyelinap. Mengintipku, lalu bersembunyi di balik pintu. Aku mengajakmu masuk kelas. Anak-anak tertawa melihatnya, aku menatapnya lekat.
"Biarkan dia belajar bersama kita," bisikku pada anak-anak. Mereka mengangguk. Lalu menyaksikan bagaimana dia bernyanyi, tertawa, sambil melirik malu ke arahku.
Aku berharap kau akan selalu tertawa seperti ini, maafkan aku yang tak selalu bisa membersamaimu. Ini hari terakhir aku di sini, esok aku harus pulang meneruskan jadwal yang belum usai.
Jika kau memahami apa yang aku ucapkan, dengarkanlah: Aku mencintaimu, jangan bersedih, karena Alloh selalu ada untukmu. Dia tentu sangat menyayangimu. Siang itu aku mengantarmu pulang, lalu melambai tangan. Lama aku menatapmu, kau hanya tersipu sambil  menyunggingkan gigimu yang tak rata.
Sampai jumpa kawan!



Tersenyumlah. meski dalam sedihmu
tersenyumlah, karena ada hak orang lain di dalamnya
tersenyumlah, selagi kau tak mampu berkata-kata
tersenyumlah, karena ia obat hati yang sekarat..
Jika kau mencintainya, maka tersenyumlah dan jangan bosan ^_^


Teruntuk kalian, anak-anak yang istimewa tersenyumlah..karena akan selalu ada orang-orang yang mencintaimu...